Selasa, 23 Desember 2014

Melepaskan atau menyerahkan?

0 komentar
Ramai orang berkoar bahwa hakikat cinta sejati adalah melepaskan. Bahwa dia akan kembali ketika memang mereka ditakdirkan untuk bersama. Ramai orang meng-iya-kan. Ramai orang mengilhami. Entah seperti apa definisi cinta sejati menurut mereka.

Selasa, 23 Desember 2014
Dan bukankah hakikat cinta sejati adalah melepaskan?

Disini... Ya, disinilah ketidakwarasanku mulai berontak.

"Hei, seberapa besar kepercayaanmu terhadap cinta sejati sampai kamu rela untuk melepaskan?"


Lalu kamu menjawab, "melepaskan itu ikhlas."
"Ikhlas itu ilmu tingkat dewa."
"Dan kita hadir dan bertemu bukan tanpa maksud."

"No, wait! Bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas."

Kamu tau bahwa kita semua dipertemukan bukan tanpa maksud. Kamu paham bahwa mencintai adalah kehendak hati. Dan kamu mengerti bahwa keikhlasan adalah suatu keputusan yang diambil ketika kamu telah siap untuk melepaskan. Lalu dengan dalih ikhlas, masih pantaskah kamu menyebutnya dengan nama cinta sejati?

Dan ketika kamu mengatakan bahwa kamu telah ikhlas untuk melepaskan, saat itu pula kamu harus siap untuk mengatakan, "dia bukan siapa-siapa".

Dengan demikian maka hatimu akan dilapangkan. Tidak ada lagi cengkeraman kuat dari keyakinan bahwa 'yang kamu lepas adalah cinta sejatimu'. Bukan, dia bukan cinta sejati. Cinta sejati tidak akan pernah lari.

Ketika kamu masih berusaha memaksakan hatimu mengakui, meyakinkan dirimu bahwa dia akan kembali, dan mebiarkan hatimu disesaki oleh harapan tentangnya, lalu apa artinya kamu mengatakan 'hakikat cinta sejati adalah melepaskan'? bukankah akan lebih tepat jika kamu menyebutnya 'hakikat cinta sejati adalah mengharapkan'? maka kata 'melepaskan' disini akan luntur dan tidak ada lagi cinta sejati.

"Takdir tidak pernah bohong."

Ya, takdir memang tidak pernah bohong. Takdir tidak pernah tertukar. Jika kalian ditakdirkan untuk bersama, maka kalian akan bersama. Jika tidak, maka tidak. Ketika kamu telah berhasil meyakinkan dirimu bahwa cerita selanjutnya telah diatur oleh Tuhanmu, ini yang dikatakan ikhlas menyerahkan: menyerahkan cerita selanjutnya yang entah bersama siapa, bukan selalu tentang dia. 

Maka (sekali lagi) hatimu akan dilapangkan. Hatimu akan disiapkan untuk menerima 'dia yang baru' tanpa tersisa beban apapun.

Kemudian ketika kamu memutuskan untuk menerima yang baru, maka terimalah. Saat itu juga kamu harus benar-benar menutup cerita lalu.

Nah, lalu pada suatu kesempatan berdialog dengan seorang partner, dia bercerita tentang seseorang yang  sedang mencinta. Sampai rela memberikan segalanya.
"Termasuk password facebooknya."
"Really?"
"Yap."
"Kemudian apa yag terjadi?"
"Semua pesan dan notifikasi dari (sorry) mantan pacar si wanita, dihapus semua oleh si pria."
"Segitunya? kenapa?"
"Mungkin cemburu."
"Alasannya?"
"..." Partner mengangkat bahu, seolah berkata entahlah.

"Boleh mengutarakan pendapat?"
"Silakan..."

"Saya rasa si pria yang berlebihan. Atau bisa jadi si wanita yang kurang peka."
"Berlebihan karena...."
"... Karena seharusnya dia bisa menghargai masa lalu si wanita. Karena seberapapun ceritanya membuat si pria cemburu atau sakit hati, dia tetap tidak berhak untuk menutup secara paksa cerita si wanita. Bagaimanapun, meraka sama-sama punya masa lalu yang mau tidak mau telah dilewati."

"Nah, misal si wanita sudah mempersilakan? Masalahnya dimana?"
"... Bukan masalahnya dimana ketika wanitanya sudah mempersilakan. Kalau dia peka, ketika dia telah memutuskan untuk bersama orang lain, dia juga harus siap untuk menghapus jejak masa lalunya. Dalam artian, bisa memilah mana yang perlu dibawa dan mana yang harus ditinggalkan. Jangan sampai dia mengajak pasangannya untuk hidup kembali di masa lalunya. Jangan sampai pasangannya yang turun tangan menyeret dia keluar dari garis sejarah. Kurang lebihnya seperti itu."

Kemudian alur pembicaraan kami mulai meluas. Out of focus.

Dan dengan menulis seperti ini, saya tidak pernah berniat untuk menunjukkan bahwa saya adalah yang paling benar. Tidak, tidak selalu yang membaca tulisan ini harus mengangguk dan berkata setuju. Tangan saya hanya menuliskan apa yang otak saya ingin saya tulis.

23 Desember 2014, segala buah dari obrolan dan ketidaksetujuan telah mencair di tulisan ini :)
Thanks for reading ;)

Jumat, 19 September 2014

Melangkah, maju, ke depan

0 komentar
Here...... am comin back :D

“Hai neptunus, apa kabar di laut biru? Perahu kertas yang kali ini akan membawakanmu kisah tentang perjalanan hatiku. Seperti layaknya hati selalu mengharap bahagia. Hatikupun seperti itu...”

Perahu kertas selalu dan selalu. Entah kenapa, novel itu serasa punya roh. Dan tentang bagaimana tiba-tiba kita menempatkan diri sebagai Kugy, bagaimana tiba-tiba kita jatuh hati pada sebuah kehidupan yang lengkap dengan kerumitannya, kesederhanaannya, keceriaannya dan kecintaannya, rasanya semua itu hidup tanpa dihidupkan. Rasanya mereka memiliki nyawa dengan komposisi yang pas :)

Skip, perahu kertas yang kali ini akan membawakan kisah tentang perjalanan hatiku :)


"Banyak yang nggak ngerti lalu terluka dan saling menyalahkan. Karena itu aku takut bicara tentang hati, maka kutuliskan saja, lalu kusimpan, dan mungkin kukirimkan ke... entah kemana".


Entah kemana :D
Seperti... entah kenapa tulisan ini tiba-tiba terlahir. Seperti entah kenapa nulis ini kudu pake mikir, takut dikira curhat, takut dikira cengeng, cemen, atau apapun.
Seperti... untuk hidup saja rasanya banyak yang harus dipertimbangkan. Dan seperti pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya justru membuat kaki ini berat untuk melangkah.

Lalu, kenapa nggak maju aja? Tabrak aja? Toh dengan jalan, nabrak dan jatuh, atau diam dan selamat, atau jalan dan selamat sampai tujuan, proses kematian tetap akan berlangsung.

I think everyone is scared in their own way. Takut gagal, takut salah, takut nyesel. Akupun kadang seperti itu.... “dan perjalanan hati itu bukan tanpa resiko.” ;)


Baiklah, tabrak aja ya..


Tentang sebuah perjalanan.... Yap, jalan yang berputar untuk pada akhirnya kembali pulang. Sebagaimana semua aliran air, dari manapun itu suatu saat pasti akan ke laut.

Suatu malam dalam sebuah perjalanan, berakhir dengan merebahkan diri di atas pasir, di bawah bintang, di pegunungan, ada tiga unsur yang menggelitik: bintang – jatuh – harapan. Tapi malam itu, rembulan berada di belakang, sementara bintang di ujung jari yang menapak di langit masih berkedip manis di atas sana. Sengaja, jangan jatuh, tetaplah menggantung disana... bersama semua doa yang sedang merangkak naik. Kemudian jatuhlah ke bumi pada saat yang tepat :)

“Air laut itu volumenya berubah nggak ya?” pertanyaan pertama diantara merdunya suara ombak pagi itu.
“Nggak bisa jawab pertanyaan kalo naga di perut belum dikasih jatah makanan.”
Lalu ada sepotong cheese crispy mendarat di mulut :D
“Nah, kenapa?”
“Karena... –sambil ngunyah sambil menerawang jauh ke laut sana, mencari signal yang tertangkap oleh radar neptunus– air laut itu punya siklus, dari laut, atmosfer, jatuh ke bumi, lewat sungai, balik lagi ke laut dan begitu seterusnya.”

Karena laut adalah rumah. Sebuah tempat yang ditinggal pergi oleh air, dan tempat dimana air-air itu nantinya akan pulang.

“Mungkin nggak air laut ini suatu saat akan habis?”
“Nanti, ketika semua air tersesat di atmosfer dan lupa jalan pulang.”

(nulis ini bikin kangen, bikin pengin balik ke laut, berlama-lama disana)

Terus tiba-tiba keinget scene Kugy pas di laut, soundtracknya ini...
... dan birunya semakin biru, tak kan berhenti. Seluas yang tak kan terperi dan kusadari, memahami, bersamamu langit amat indah... *nyengir

It was perfect holiday :)

Dan tentang seorang partner...
Terima kasih ya.. ini bukan pertama kalinya kamu bikin agenda gila dan menyenangkan semacem ini. Ini bukan pertama kalinya ketika aku bilang ‘pengen kesana’ terus langsung masuk list dan terealisasi dalam kurun waktu yang sangat singkat. Terima kasih... Untuk gambar-gambar kerennya :D


"Hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja."

"Sekarang, saat ini, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal usul latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku..........."


Ah, cukup :D
"Seperti semua perahu kertas yang selama ini aku larung. Dia nggak tau akan berhenti dimana. Nggak semua cerita bisa happy ending."

Senin, 19 Mei 2014

Marmut 'Pink' :D

0 komentar
170514 After Dzuhur, meluncur ke Grand 21 setelah melewati sedikit perdebatan yang absurd. Kita main perinsip ekonomi, yang murah yang terpilih. Antara Grand 21 atau XXI Solo Square.
“Grand 21 lebih murah.”
“Oke DEAL!”
“XXI the park promo tuh 25 ribuan.”
“Checked!”
“Wait..... Tulisan ‘Senin-Kamis’nya di bawah label harga kecil banget.”
“Sudah tak batin. Tapi biar km pastiin sendiri aja sih.”
“Ngekk.... Ngeles!”

Jadi, menontonlah Marmut Merah Jambu yang tayang jam 14.00. Nunggu setengah jam di waiting room sambil cekikikan mengingat-ingat kejadian di loket antrian. Tentang ibu-ibu dengan pasukan alitnya. Awalnya memang ada beberapa anak manusia di waiting room. Apalah, paling sama-sama nunggu jam tayang. Ternyata mereka berlima berasal dari satu induk. Macem anak ayam ajee pas dipanggil emaknya. Hore banget sumpah.

Sisa dari setengah jam prosesi menuggu itu dihabiskan dengan mengalirnya sebuah cerita tentang asal usul pisang jadi-jadian – paragraf yang lebih baik diskip aja –

Dan masuklah kami ke Studio 1 *jrang jreng... Lokasi paling favorit di row A seat 7 dan 8. Deretan paling atas, mata bisa segaris sama layar. Seat 7 dan 8, nggak nengah-nengah amat, jadi nggak perlu juga lompatin makhluk-makhluk lain yang udah duduk dengan tenang. Alesan lain? Bisa selonjoran di kepala orang, tanpa kepala kita harus diselonjorin kakinya orang *plakkk...

Terus tiba-tiba lampunya mati. Gelap! *iya lah. Terus layarnya jadi warna pink. What? Yep, judulnya kan Marmut Merah Jambu. Disinilah awal dari prosesi ngakak selama hampir dua jam yang sukses bikin pipi kaku. (Selama dua jam itu ya, nggak ngerti, nggak keitung berapa kali lengan sebelah jadi korban tabokan tangan yang khilaf ini. *deep sorry *nyengir.

Diawali dengan scene Dika yang dengan segala kebodohannya membawa seribu origami burung bangau ke rumah Ina yang besoknya mau nikah. Oke, jadi film ini banyak berisi tentang kegilaan-kegilaan dan cinta diam-diam. *ulangi: Cinta Diam-diam. Setelah review lagi di bukunya, memang ada tuh ‘Balada Cinta Diam-diam’ dan ‘Unrequited Love’.


“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.”
― Raditya Dika, Marmut Merah Jambu


“Bagaimana dengan orang yang memilih tidak pernah mencintai orang lain? Atau, ini yang paling parah: bagaimana dengan orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan?

Mereka punya nama untuk itu : unrequited love

Unrequited love, atau cinta yang tak berbalas, adalah hal yang paling bisa bikin kita ngais tanah. Untuk tahu kalau cinta tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas memiliki orang tersebut. Rasanya seperti di ingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.”
― Raditya Dika, Marmut Merah Jambu

Dan tentang sebuah pertemuan :)


Bagaimana dua orang bisa saling bertemu dan jatuh cinta? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah, mereka satu kelas di tempat les,atau sang guru membuat mereka duduk satu meja. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks. Tidak ada yang tahu pasti kapan soulmate bisa datang”

Gue menyebut ini semua sebagai sebuah cosmological incidence, atau kebetulan cosmos, kebetulan yang dirancang oleh alam semesta. Semesta telah mengatur pertemuan kita. Lebih jauh lagi, gue gak percaya pada  pertemuan yang direncanakan diam-diam. Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan”

Lalu scene berikutnya yang bercerita tentang kegilaan-kegilaan yang bikin hidup jadi berisik. Sumpah, nggak nyangka bias sengakak itu. Sebuah ‘Merah Jambu’ yang dikemas dalam format komedi.

Last scene, Cindy bilang, “seperti seekor marmut berwarna merah jambu yang terus-menerus jatuh cinta, loncat dari satu relationship ke yang lainnya, mencoba berlari dan berlari dan berlari di dalam roda bernama cinta, seolah-olah maju, tapi tidak.... karena sebenarnya jalan di tempat. Dan nggak tau kapan harus berhenti.” Terus Dika bilang, “berhenti, yuk!”

Galau time start from here!
Mengingat beberapa hari yang lalu, aku dan seseorang memutuskan untuk berhenti. Yap, berhenti, tapi cuma sebentar buat istirahat. Setelah itu lari lagi (sendiri) dan nggak tau kapan harus berhenti (yang sebenarnya).

Capek! Iya capek.
Capek kalau harus memulai dan behenti seperti ini. Dan menyadari bahwa ternyata akulah yang belum siap untuk memulai. Sampai kemudian harus lari terus kayak gini. Rasanya kayak terjebak, kayak tersesat, dan aku belajar menikmati ketersesatan ini sebelum akhirnya tiba saat untuk berhenti.

“Berhenti, yuk!”
Ini sejenis kalimat sakti macam, “will you marry me?” versi Marmut. Terdengar lebih asik. Then, kalimat sakti buat aku besok apaan yaaaaaaa? *mulai deh.....

“Sudah siap emang?”
“Belom.”

“Kapan siap?”
“Ehm....”

“Ehm, yang artinya?”

“Marmut berlari ketika dia ingin berlari..”
“Dan berhenti kalo udah merasa lelah.”
“Insting. Yap, insting.”

Dan instingku belum mendeteksi tanda-tanda ingin berhenti ...
Tapi nanti, PASTI.
2016 yaa :D
 

R.I.N Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea