170514 After Dzuhur, meluncur ke Grand 21
setelah melewati sedikit perdebatan yang absurd. Kita main perinsip ekonomi,
yang murah yang terpilih. Antara Grand 21 atau XXI Solo Square.
“Grand 21 lebih murah.”
“Oke DEAL!”
“XXI the park promo tuh 25 ribuan.”
“Checked!”
“Wait..... Tulisan ‘Senin-Kamis’nya di bawah
label harga kecil banget.”
“Sudah tak batin. Tapi biar km pastiin sendiri
aja sih.”
“Ngekk.... Ngeles!”
Jadi, menontonlah Marmut Merah Jambu yang
tayang jam 14.00. Nunggu setengah jam di waiting room sambil cekikikan
mengingat-ingat kejadian di loket antrian. Tentang ibu-ibu dengan pasukan
alitnya. Awalnya memang ada beberapa anak manusia di waiting room. Apalah,
paling sama-sama nunggu jam tayang. Ternyata mereka berlima berasal dari satu
induk. Macem anak ayam ajee pas dipanggil emaknya. Hore banget sumpah.
Sisa dari setengah jam prosesi menuggu itu
dihabiskan dengan mengalirnya sebuah cerita tentang asal usul pisang
jadi-jadian – paragraf yang lebih baik diskip aja –
Dan masuklah kami ke Studio 1 *jrang jreng...
Lokasi paling favorit di row A seat 7 dan 8. Deretan paling atas, mata bisa
segaris sama layar. Seat 7 dan 8, nggak nengah-nengah amat, jadi nggak perlu
juga lompatin makhluk-makhluk lain yang udah duduk dengan tenang. Alesan lain?
Bisa selonjoran di kepala orang, tanpa kepala kita harus diselonjorin kakinya
orang *plakkk...
Terus tiba-tiba lampunya mati. Gelap! *iya
lah. Terus layarnya jadi warna pink. What? Yep, judulnya kan Marmut Merah
Jambu. Disinilah awal dari prosesi ngakak selama hampir dua jam yang sukses
bikin pipi kaku. (Selama dua jam itu ya, nggak ngerti, nggak keitung berapa
kali lengan sebelah jadi korban tabokan tangan yang khilaf ini. *deep sorry
*nyengir.
Diawali dengan scene
Dika yang dengan segala kebodohannya membawa seribu origami burung bangau ke
rumah Ina yang besoknya mau nikah. Oke, jadi film ini banyak berisi tentang
kegilaan-kegilaan dan cinta diam-diam. *ulangi: Cinta Diam-diam. Setelah review
lagi di bukunya, memang ada tuh ‘Balada Cinta Diam-diam’ dan ‘Unrequited Love’.
“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.
Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.
Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.”
― Raditya Dika, Marmut Merah Jambu

“Bagaimana dengan orang yang memilih tidak pernah mencintai orang lain? Atau, ini yang paling parah: bagaimana dengan orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan?Mereka punya nama untuk itu : unrequited loveUnrequited love, atau cinta yang tak berbalas, adalah hal yang paling bisa bikin kita ngais tanah. Untuk tahu kalau cinta tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas memiliki orang tersebut. Rasanya seperti di ingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.”― Raditya Dika, Marmut Merah Jambu
Dan tentang sebuah pertemuan :)
“Bagaimana dua orang bisa saling bertemu dan jatuh cinta? Bagi sebagian orang, sesimpel mereka sekelas di sekolah, mereka satu kelas di tempat les,atau sang guru membuat mereka duduk satu meja. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks. Tidak ada yang tahu pasti kapan soulmate bisa datang”“Gue menyebut ini semua sebagai sebuah cosmological incidence, atau kebetulan cosmos, kebetulan yang dirancang oleh alam semesta. Semesta telah mengatur pertemuan kita. Lebih jauh lagi, gue gak percaya pada pertemuan yang direncanakan diam-diam. Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan”
Lalu scene berikutnya
yang bercerita tentang kegilaan-kegilaan yang bikin hidup jadi berisik. Sumpah,
nggak nyangka bias sengakak itu. Sebuah ‘Merah Jambu’ yang dikemas dalam format
komedi.
Last scene, Cindy bilang, “seperti
seekor marmut berwarna merah jambu yang terus-menerus jatuh cinta, loncat dari
satu relationship ke yang lainnya, mencoba berlari dan berlari dan berlari di
dalam roda bernama cinta, seolah-olah maju, tapi tidak.... karena sebenarnya
jalan di tempat. Dan nggak tau kapan harus
berhenti.” Terus Dika bilang, “berhenti, yuk!”
Galau time start from here!
Mengingat beberapa hari yang lalu, aku dan
seseorang memutuskan untuk berhenti. Yap, berhenti, tapi cuma sebentar buat
istirahat. Setelah itu lari lagi (sendiri) dan nggak tau kapan harus berhenti
(yang sebenarnya).
Capek! Iya capek.
Capek kalau harus memulai dan behenti seperti
ini. Dan menyadari bahwa ternyata akulah yang belum siap untuk memulai. Sampai
kemudian harus lari terus kayak gini. Rasanya kayak terjebak, kayak tersesat,
dan aku belajar menikmati ketersesatan ini sebelum akhirnya tiba saat untuk
berhenti.
“Berhenti, yuk!”
Ini sejenis kalimat sakti macam, “will you
marry me?” versi Marmut. Terdengar lebih asik. Then, kalimat sakti buat aku
besok apaan yaaaaaaa? *mulai deh.....
“Sudah siap emang?”
“Belom.”
“Kapan siap?”
“Ehm....”
“Ehm, yang artinya?”
“Marmut berlari ketika dia ingin berlari..”
“Dan berhenti kalo udah merasa lelah.”
“Insting. Yap, insting.”
Dan
instingku belum mendeteksi tanda-tanda ingin berhenti ...
Tapi
nanti, PASTI.
2016 yaa
:D
