Perahu kertas selalu dan selalu. Entah kenapa, novel itu
serasa punya roh. Dan tentang bagaimana tiba-tiba kita menempatkan diri sebagai
Kugy, bagaimana tiba-tiba kita jatuh hati pada sebuah kehidupan yang lengkap
dengan kerumitannya, kesederhanaannya, keceriaannya dan kecintaannya, rasanya
semua itu hidup tanpa dihidupkan. Rasanya mereka memiliki nyawa dengan
komposisi yang pas :)
Skip, perahu kertas yang kali ini akan membawakan kisah
tentang perjalanan hatiku :)
"Banyak yang nggak ngerti lalu terluka dan saling menyalahkan. Karena itu aku takut bicara tentang hati, maka kutuliskan saja, lalu kusimpan, dan mungkin kukirimkan ke... entah kemana".
Entah kemana :D
Seperti... entah kenapa tulisan ini tiba-tiba terlahir. Seperti
entah kenapa nulis ini kudu pake mikir, takut dikira curhat, takut dikira
cengeng, cemen, atau apapun.
Seperti... untuk hidup saja rasanya banyak yang harus
dipertimbangkan. Dan seperti pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya
justru membuat kaki ini berat untuk melangkah.
Lalu, kenapa nggak maju aja? Tabrak aja? Toh dengan jalan,
nabrak dan jatuh, atau diam dan selamat, atau jalan dan selamat sampai tujuan,
proses kematian tetap akan berlangsung.
I think everyone is scared in their
own way. Takut gagal, takut salah, takut nyesel. Akupun kadang seperti itu.... “dan
perjalanan hati itu bukan tanpa resiko.” ;)
Baiklah, tabrak aja ya..
Tentang sebuah perjalanan.... Yap, jalan yang berputar untuk
pada akhirnya kembali pulang. Sebagaimana semua aliran air, dari manapun itu
suatu saat pasti akan ke laut.
Suatu malam dalam sebuah perjalanan, berakhir dengan
merebahkan diri di atas pasir, di bawah bintang, di pegunungan, ada tiga unsur
yang menggelitik: bintang – jatuh – harapan. Tapi malam itu, rembulan berada di
belakang, sementara bintang di ujung jari yang menapak di langit masih berkedip
manis di atas sana. Sengaja, jangan jatuh, tetaplah menggantung disana...
bersama semua doa yang sedang merangkak naik. Kemudian jatuhlah ke bumi pada saat yang
tepat :)
“Air laut itu volumenya berubah nggak ya?” pertanyaan
pertama diantara merdunya suara ombak pagi itu.
“Nggak bisa jawab pertanyaan kalo naga di perut belum
dikasih jatah makanan.”
Lalu ada sepotong cheese crispy mendarat di mulut :D
“Nah,
kenapa?”
“Karena...
–sambil ngunyah sambil menerawang jauh ke laut sana, mencari signal yang tertangkap
oleh radar neptunus– air laut itu punya siklus, dari laut, atmosfer, jatuh ke
bumi, lewat sungai, balik lagi ke laut dan begitu seterusnya.”
Karena
laut adalah rumah. Sebuah tempat yang ditinggal pergi oleh air, dan tempat
dimana air-air itu nantinya akan pulang.
“Mungkin
nggak air laut ini suatu saat akan habis?”
“Nanti,
ketika semua air tersesat di atmosfer dan lupa jalan pulang.”
(nulis ini bikin
kangen, bikin pengin balik ke laut, berlama-lama disana)
Terus tiba-tiba
keinget scene Kugy pas di laut, soundtracknya ini...
... dan birunya
semakin biru, tak kan berhenti. Seluas yang tak kan terperi dan kusadari,
memahami, bersamamu langit amat indah... *nyengir
It was perfect
holiday :)
Dan tentang seorang
partner...
Terima kasih ya..
ini bukan pertama kalinya kamu bikin agenda gila dan menyenangkan semacem ini. Ini
bukan pertama kalinya ketika aku bilang ‘pengen kesana’ terus langsung masuk
list dan terealisasi dalam kurun waktu yang sangat singkat. Terima kasih... Untuk
gambar-gambar kerennya :D
"Hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja.""Sekarang, saat ini, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal usul latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku..........."
Ah, cukup :D
"Seperti semua perahu kertas yang selama ini aku larung. Dia nggak tau akan berhenti dimana. Nggak semua cerita bisa happy ending."
