Jumat, 19 September 2014

Melangkah, maju, ke depan

0 komentar
Here...... am comin back :D

“Hai neptunus, apa kabar di laut biru? Perahu kertas yang kali ini akan membawakanmu kisah tentang perjalanan hatiku. Seperti layaknya hati selalu mengharap bahagia. Hatikupun seperti itu...”

Perahu kertas selalu dan selalu. Entah kenapa, novel itu serasa punya roh. Dan tentang bagaimana tiba-tiba kita menempatkan diri sebagai Kugy, bagaimana tiba-tiba kita jatuh hati pada sebuah kehidupan yang lengkap dengan kerumitannya, kesederhanaannya, keceriaannya dan kecintaannya, rasanya semua itu hidup tanpa dihidupkan. Rasanya mereka memiliki nyawa dengan komposisi yang pas :)

Skip, perahu kertas yang kali ini akan membawakan kisah tentang perjalanan hatiku :)


"Banyak yang nggak ngerti lalu terluka dan saling menyalahkan. Karena itu aku takut bicara tentang hati, maka kutuliskan saja, lalu kusimpan, dan mungkin kukirimkan ke... entah kemana".


Entah kemana :D
Seperti... entah kenapa tulisan ini tiba-tiba terlahir. Seperti entah kenapa nulis ini kudu pake mikir, takut dikira curhat, takut dikira cengeng, cemen, atau apapun.
Seperti... untuk hidup saja rasanya banyak yang harus dipertimbangkan. Dan seperti pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya justru membuat kaki ini berat untuk melangkah.

Lalu, kenapa nggak maju aja? Tabrak aja? Toh dengan jalan, nabrak dan jatuh, atau diam dan selamat, atau jalan dan selamat sampai tujuan, proses kematian tetap akan berlangsung.

I think everyone is scared in their own way. Takut gagal, takut salah, takut nyesel. Akupun kadang seperti itu.... “dan perjalanan hati itu bukan tanpa resiko.” ;)


Baiklah, tabrak aja ya..


Tentang sebuah perjalanan.... Yap, jalan yang berputar untuk pada akhirnya kembali pulang. Sebagaimana semua aliran air, dari manapun itu suatu saat pasti akan ke laut.

Suatu malam dalam sebuah perjalanan, berakhir dengan merebahkan diri di atas pasir, di bawah bintang, di pegunungan, ada tiga unsur yang menggelitik: bintang – jatuh – harapan. Tapi malam itu, rembulan berada di belakang, sementara bintang di ujung jari yang menapak di langit masih berkedip manis di atas sana. Sengaja, jangan jatuh, tetaplah menggantung disana... bersama semua doa yang sedang merangkak naik. Kemudian jatuhlah ke bumi pada saat yang tepat :)

“Air laut itu volumenya berubah nggak ya?” pertanyaan pertama diantara merdunya suara ombak pagi itu.
“Nggak bisa jawab pertanyaan kalo naga di perut belum dikasih jatah makanan.”
Lalu ada sepotong cheese crispy mendarat di mulut :D
“Nah, kenapa?”
“Karena... –sambil ngunyah sambil menerawang jauh ke laut sana, mencari signal yang tertangkap oleh radar neptunus– air laut itu punya siklus, dari laut, atmosfer, jatuh ke bumi, lewat sungai, balik lagi ke laut dan begitu seterusnya.”

Karena laut adalah rumah. Sebuah tempat yang ditinggal pergi oleh air, dan tempat dimana air-air itu nantinya akan pulang.

“Mungkin nggak air laut ini suatu saat akan habis?”
“Nanti, ketika semua air tersesat di atmosfer dan lupa jalan pulang.”

(nulis ini bikin kangen, bikin pengin balik ke laut, berlama-lama disana)

Terus tiba-tiba keinget scene Kugy pas di laut, soundtracknya ini...
... dan birunya semakin biru, tak kan berhenti. Seluas yang tak kan terperi dan kusadari, memahami, bersamamu langit amat indah... *nyengir

It was perfect holiday :)

Dan tentang seorang partner...
Terima kasih ya.. ini bukan pertama kalinya kamu bikin agenda gila dan menyenangkan semacem ini. Ini bukan pertama kalinya ketika aku bilang ‘pengen kesana’ terus langsung masuk list dan terealisasi dalam kurun waktu yang sangat singkat. Terima kasih... Untuk gambar-gambar kerennya :D


"Hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja."

"Sekarang, saat ini, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal usul latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku..........."


Ah, cukup :D
"Seperti semua perahu kertas yang selama ini aku larung. Dia nggak tau akan berhenti dimana. Nggak semua cerita bisa happy ending."

 

R.I.N Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea