Selasa, 31 Januari 2012

Choice ^o^

3 komentar
Dalam hati ingin memiliki, tapi rupanya Tuhan memberiku waktu lebih untuk menikmati indahnya sendiri. ^^

Bukan munafik. Sebenernya pengen juga kayak mereka. Tapi kalo inget harapan-harapan besar ibuk bapak jadi gimanaaa gitu. Mereka pernah pesen sesuatu, nempel banget di hati, “Dek, jangan cuma gara-gara pacaran di usia 20 tahun lalu kamu menyesal ketika nanti kamu temukan orang yang lebih baik di usiamu selanjutnya.”

Sebenernya bukan cuma itu yang jadi point. Ibuk bapak menyampaikan kalimat, “jangan mudah membiarkan orang lain terlalu berharap karena mungkin nanti kamu akan meninggalkannya."

Nah, kemaren ada sahabat bertanya, “tanpa menjalin relationship, mana kita tau orang itu tepat buat kita atau enggak?”

Hmm... aku sempet mikir, iya juga sih. Namanya juga usaha. Tapi ternyata jawaban itu muncul bisa dari mana saja :)

Sebuah tulisan menjelaskan sesuatu padaku, bahwa jodoh itu sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa. Tuhan bisa membolak-balik keadaan, mendekatkan yang jauh dan meluarbiasakan jodoh yang biasa-biasa saja. Usaha nggak cuma dengan berstatus in a relationship. Tuhan maha mendengar bahkan yang nggak bisa didengar makhluk lain. Usaha terbaik adalah menjadikan diri kita sebaik-baiknya manusia dan berdoa agar Tuhan menganugerahkan pada kita seseorang yang kita memiliki hak untuk mendapatkannya. Agree? ^^

Well, mungkin nggak ada manusia yang sempurna. Tapi sempurna merupakan suatu kriteria. Setiap orang mengriteriakan berbeda tentang kata sempurna. So, sempurna bukanlah standar.

Semoga kelak kudapatkan seseorang yang sempurna...
... yang bisa menjadi panutan buat aku dan anak-anakku.
... yang bisa tetap semangat dan menyemangati ketika dia, aku dan anak-anakku dipaksa oleh keadaan untuk terjatuh.
... yang bisa membimbing dirinya, aku dan anak-anakku untuk berbahagia dalam kesulitan. Tetap terlihat bahagia di depan orang lain dan membiarkan kesulitan itu hanya berada di dalam rumah tanpa harus orang lain mengetahuinya.
... yang bisa menjadi bapak idola buat anak-anakku. Memberikan cinta, menumbuhkan mimpi, menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dibalik suksesnya anak-anakku nanti.
... yang bisa mendidik anak-anakku dengan kebijaksanaan, bukan suara keras atau tangan yang membuat anak-anakku tumbuh dalam tekanan dan ketakutan.
... yang bisa memastikan dirinya bersama aku mampu hidup dan menghidupi anak-anakku hingga mereka menjadi orang yang juga bisa hidup dan menghidupi :)
... yang di usia senja nanti masih bisa menabur semangat dan kebahagiaan untuk anak cucunya ^^

*kalo dikasi oleh Tuhan wajah yang rupawan, alhamdulillah...
*kalo dikasi oleh Tuhan seorang hartawan, alhamdulillah ^^ (berarti diijinkan untuk lebih lama bersyukur dan bersodaqoh) amiiin :D




__ setiap orang wajib berharap, wajib pula bersyukur __
Finnally, semoga tercapai apa yang menjadi doa kita selama ini, amin :)

Remember: kita boleh punya kriteria, tapi tak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang kita kriteriakan juga memiliki kriteria tersendiri.

Persons Called 'Teacher'

0 komentar
Yap, suddenly, am interested to talking more about persons called “teacher”. Check dis one :)


Dia merupakan sebuah konsep yang ditanamkan pada diriku sebagai profesi yang mulia, dialah pahlawan tanpa tanda jasa. Mendidik, mengajari kita untuk sekedar bisa mengeja huruf dari A, B, C hingga Z, berhitung, menjumlah, menganalisa dan memecahkan masalah.

Dialah profesi yang mulia. Yang HANYA mengajarkan mengeja huruf bagi anak-anak yang mulai memasuki dunia baca tulis. Begitukah beberapa orang menganggap sebuah profesi yang mulia itu. Terkadang yang jadi pertanyaan mereka adalah apakah seorang guru hanya akan mengajari murid-muridnya untuk membaca, menulis dan berhitung? Sedangkan yang perlu dididik adalah bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga meliputi mental anak. Maka jawabannya adalah YA. Ya, Guru HANYA mengajari untuk membaca dan menulis. Profesi yang hebat, bukan?

Mengajari membaca dan menulis ternyata adalah hal yang luar biasa. Ibarat membuka pintu baru yang belum terbuka, Guru memperkenalkan dan mengajari bahkan memaksa sang murid untuk bisa membaca dan menulis. Ketika nanti si murid telah bisa membaca, bukankah akan menjadi mudah untuk masuknya ilmu dari buku-buku yang mereka baca? Semakin murid itu banyak membaca, semakin banyak ilmu yang masuk, dia akan semakin pintar dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi seorang yang berhasil. Dari mana awalnya semua itu? Jawabannya adalah dari seorang guu yang HANYA mengajari anak muridnya untuk membaca dan menulis.

Perkara yang klasik, kita sering memandang seorang guru dari ramah atau galaknya, mentoleransi atau menghukum murid yang tidak atau belum mengerjakan tugas dan menjewer atau sekedar membiarkan murid yang nakal. Ya, sebatas itu saja. Padahal semua guru tujuannya adalah satu, yaitu mencerdaskan anak bangsa. Masalah cara mendidik, setiap orang memiliki gaya berbeda, kan? Itu yang membuat kehebatan mereka tersamarkan.

“Ah, profesi apa? Cuma guru?”
Masih akankah ada pertanyaan semacam itu? Jika iya, maka sang penanya lupa bahwa yang menjadikan mereka seperti sekarang ini adalah kemampuan, perjuangan mereka sendiri dan campur tangan seorang guru.

Single, why not? :P

0 komentar

Kenapa resah?
Kenapa gelisah?
Kenapa malu?

Hey, you are the single person. You are fully yours. Harusnya kamu bangga, sayang. Di usiamu yang muda, kamu masih diberi banyak kesempatan untuk memikirkan masa depan. You are single. Disini ada banyak alasan yang mungkin belum kamu ketahui. Percayalah…

Oke, mungkin Tuhan masih sibuk memilihkan laki-laki yang pantas untukmu. Mungkin memang laki-laki bertebaran di sekelilingmu. Bukan tak mungkin tak ada satupun yang Tuhan kehendaki untuk kau miliki. Kalaupun iya, belum saatnya, sayang :)

Alasan ke-dua. Klasik, kamu terlalu baik untuk mereka. Bukan dari penampilan fisik, bukan. Tapi dari hati. Kenapa mereka tak memilih kamu saja? Padahal kamu baik untuk mereka. Seribu kemungkinan mengatakan, mereka memilih seseorang yang mampu mengimbangi pribadi meraka. Bukan mereka akan merasa kalah seandainya memiliki kamu, tapi mereka akan kesulitan mengimbangi kamu. Nanti, kamu akan mendapatkan seseorang yang sesuai dengan karaktermu, atas pilihan Allah tentunya.

Alasan ke-tiga. Semakin klasik, orang tuamu terlalu sayang kamu. Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua. Ketika orang tuamu belum menghendaki kamu untuk memulai sesuatu yang baru, aku yakin Allah pun belum akan memberimu sesuatu itu. Seberapa sering kamu meminta, seberapa besar perjuangan kamu, ketika Allah belum memberi, maka bukan karena Allah tak mau memberi, tapi nanti ketika tiba saatnya kamu akan mendapatkan apa yang pantas untuk kamu dapatkan.

Alasan ke-empat. Allah yang terlalu sayang kamu. Dia ingin kamu menjadi anak yang baik. Dia ingin cintamu utuh. Dia ingin kamu tumbuh dalam kebaikan. Dia memberi kamu kesempatan untuk membahagiakan orang-orang disekitarmu. Dia memberi kamu waktu untuk menjadi dewasa. Dia memberi kamu kesempatan agar nanti pada pasangan hidupmu kamu bisa berkata, “I am fully yours.”

Alasan ke-lima. Lihat teman-temanmu, lihat mereka yang menangis ketika tersakiti, lihat mereka yang membenci ketika dikhianati. Allah tak ingin kamu seperti itu… Allah menghendaki kamu menjadi pribadi yang bersahabat, pribadi yang menghargai persaudaraan, bukan perselisihan.

Alasan ke-enam. Simpel... rasakan betapa banyak cinta-cinta yang datang dari keluarga, sahabat, teman, bahkan orang yang belum kamu kenal sekalipun. Dahsyatnya lebih dari sekedar dicintai seorang kekasih, percayalah :)

The last, Dia akan mengukur seberapa tangguh kamu menghadapi situasi ini. Dia akan menilai seberapa jauh kamu mampu melangkah mempelajari keadaan dan alasan-alasan mengapa kamu ditakdirkan seperti ini. Dia akan memberimu yang terbaik. Bukankah scenario-Nya adalah yang paling sempurna?
Yuk, mari sama-sama berpositif thinking. Insya Allah nggak ngecewain kok ;-)


Cacil:: bukan maksud saya sok pinter ato gimana… niat utama cuma berbagi, selanjutnya ingin memantapkan hati. Semoga bisa diterima :)

Finally, thanks udah menyempatkan diri buat baca note gaje ini. Hhohooo….

Waw, ada si ‘CINTA’

0 komentar
__Actually, dis note's dedicated fo me >,<

Sesekali berbicara tentang cinta. Bukan apa-apa, cuma sekedar ingin share aja. Mungkin juga memberi sedikit petunjuk untuk menemukan jalan keluar bagi teman-teman yang sedang ‘tersesat’. Hehe...

=untuk yang kisahnya saya buka lebar-lebar di catatan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Hehe... (pahala lho kalo ada yang menanggapi positif) So, protesnya belakangan aja=

Pertama, aku mau share sebuah dialog bersama seorang sahabat. Sebuah dialog yang mungkin biasa saja. Gk terlalu penting lah. Tapi coba disimak sebentar saja :)
Shbt : menurut kamu, jatuh cinta itu salah gak sih?
Aku : (terbengong-bengong) apanya yang salah?
Shbt : eh, kalo misalnya kamu jatuh cinta ya. Ternyata orang itu udah punya pacar... kamu bakal nyalahin siapa? Orang yang udah buat kamu jatuh cinta atau kamu sendiri yang terlanjur cinta?
Aku : (bengong lagi) sumpah ya... complicated banget. Gak paham aku...
Shbt : susah ah ngomongin cinta sama anak kecil.
Aku : (!@#$%^&*) ????????????????????????????????????


Nah, sahabatku...
Lewat tulisan singkat ini aku akan mencoba menjawab pertanyaanmu (dan mengeksekusi kebutaanku tentang ‘cinta’) haha....

Bener kali yah kalo aku bilang masalahmu complicated. Kalo kamu tanya siapa yang salah, mungkin gak ada yang salah. Jatuh cinta, maunya siapa? Gak ada kan? Dia datang tak diundang, persis kayak jelangkung. Kalo toh statusnya udah ‘in a relationship’, bukan sebuah kesengajaan juga untuk menghancurkan perasaanmu. Ingat filosofi Harun Yahya, “...menerima kehidupan sama artinya dengan mengakui bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi di dunia ini karena sebuah kebetulan.”

Misal kamu menyalahkan orang yang udah bikin kamu jatuh cinta, coba jelaskan alasannya? (lah, pertanyaannya mirip soal ulangan). Sekedar mengingatkan, mungkin juga dia gk pernah tau kalo kamu jatuh cinta. Mungkin dia gk pernah bermaksud membuat kamu jatuh cinta. Mungkin memang karakternya dia yang supel. Dan mungkin... dia tertarik untuk menjadikanmu sahabat karena kamu menyenangkan, bukan sebagai pacar yang suatu saat bisa dengan mudah dia tinggalkan.

Misal kamu menyalahkan dirimu sendiri yang telah jatuh dalam jebakan cinta, coba jelaskan lagi alasannya? Terlalu cepat jatuh cinta bukan alasan, kawan. Terlalu lemah oleh cinta juga bukan alasan. Kenapa? Karena tak pernah cinta itu melemahkan. Dia justru menguatkan.

Anak kecil tau apa tentang cinta? Hmm, saya memang anak kecil. Tapi punya akal untuk menganalisa sebuah kasus tentang cinta lalu belajar darinya.

Ayok lah ambil positifnya aja....
Suggesti saya:
- Kalo kamu bisa tersenyum ketika hatimu dipatahkan, berarti kamu dikuatkan oleh cinta.
- Kalo kamu bisa tetap menyenangkan di matanya, berarti kamu hebat oleh cinta.
- Kalo kamu tak pernah berniat menghindarinya, berarti kamu ditangguhkan oleh cinta.
- Kalo kamu tak pernah bermaksud membencinya, berarti kamu istimewa di mata cinta.
- Kalo kamu masih tetap mencinta... percayalah, Tuhan punya cerita.

Oke...
Selamat menjalani hari dengan penuh cinta, sobb. ^^
Semoga ini menjadi pelajaran untukku ketika nanti aku menemui kasus yang sama :P

CaCil : Hati diciptakan bukan untuk membenci. Seberapapun sakitnya hatimu, yakinlah masih ada sisa cinta disana.
 

R.I.N Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea