Kamis, 30 Desember 2010

Bagaimana kita bisa menolak cinta, sedangkan cinta itu karunia Allah?

0 komentar
1st, yok simak “Surat dari Mama”


Assalamualaikum anakku yang Shalehah....

Seandainya mama dulu sudah lebih mengerti tentang ilmu-ilmu Allah seperti sekarang ini, mungkin kesalahan-kesalahan di masa lalu tentang pandangan pergaulan remaja tak
akan terjadi, meskipun menurut mama semua sudah baik-baik saja.

Tapi ternyata banyak langkah yang masih salah dipijak, banyak pendapat orang tua yang ditentang.
Karena kami merasa benar dan baik-baik saja.

Anakku, mama ingin ananda memahami apa yang diperintahkan Allah untuk dipatuhi dan diyakini akan membawa kebahagiaan dunia dan akherat.sehingga ananda tidak membuang waktu dengan percuma hanya karena “salah cara mencintai seorang pujaan hati.”

Anakku, belajarlah mencintai seseorang yang baik menurut syari’at, belajarlah mencintai seseorang yang ia mencinta Allah, belajarlah mencintai seseorang yang dipilihkan Allah untukmu, yang memenuhi kriteria Islam, Qur’an dan Hadits. Belajarlah mencintai seseorang yang bertanggung jawab kepada Allah.

Jika kamu mencintai fisik yang menawan, wajah yang rupawan, semoga itu bukanlah hanya memenuhi nafsu hati saja. Karena belum tentu ia akan membawamu pada kebahagiaan akherat.

Itulah sebabnya mengapa banyak orang tua mencarikan jodoh untuk putrinya, samata-mata untuk menghindari ‘zina’ yang dapat menghancurkan pahala akherat untuk anaknya.

Anakku, bergaullah dengan orang-orang sholeh. Pilihlah orang yang sholeh untuk menjadi pendamping hidupmu kelak, orang yang dipilihkan Allah untukmu, yang diridhai orang tuamu.

Jika kau tak mencintainya hanya karena ia tak tampan, belajarlah mencintainya karena Allah mencintai hambanya bagaimanapun ia adanya.

Berdoalah sayang, serahkan jodohmu pada Allah.
Insyaallah Allah akan melindungimu dan memberikan segala yang terbaik dalam setiap langkah dan nafasmu.
Amin ya rabbal alamin...



Kurang lebih sama seperti itu apa yang pernah dikatakan mama dulu, tentang kalimat, “Jangan tergesa nak, berfikirlah dua kali ketika kau jatuh cinta.”

Tapi dasar aku yang dulu pikirannya cetek... gak mudeng apa artinya. Tapi Alhamdulillah Allah kasih kesempatan aku buat belajar mikir :D

Lalu bagaimana jika seorang akhwat jatuh cinta?
Sementara cinta adalah fitrah seorang manusia, dan itu yang membedakan dengan makhluk lain di bumi.

Oke... 2nd, baca tulisan dibawah.... =)

-Ketika Akhwat Jatuh Cinta-
Yang ia rasahan adalah penyesalan,
Akan tersingkapnya sebuah hijab.
Ketika seorang lelaki yang ‘belum halal’ bergelayut dalam alam fikirnya.
Karena ia rasa, cinta untuk-Nya telah ternodai.
Ia akan menghindar, ia akan menjauh dari orang tersebut.
Mematikan rasa yang bernaung di hatinya.
Memasang pagar pembatas agar cinta itu tak lagi kembali.
Memutar kemudi hati dan kembali pada cinta-Nya.
Ia tak pernah khawatir akan kehilangan cinta.
Karena Allah akan mempersatukan jika Allah menghendaki.
Biar Allah yang mengaturnya... biar Allah yang berencana.
Semua akan baik-baik saja... semua akan indah pada kalanya.




Huhuuuu..... dan sekarang virus merah jambu datang menyerang. Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Bodoh yak, masih bertanya-tanya... padahal udah jelas banget apa yang tertulis di atas.

Tapi sahabat berkata, “ikuti saja kemana hatimu melangkah. Kalau ini kalanya kamu jatuh cinta, penolakan hanya akan menyakitkan.”

Ya ampuuuuunnnnnn >,<

Harus pake rumus apa aku menentukan jawaban atas pertanyaanku sendiri???? Chi square, persamaan kuadrat, mean, modus, atau median??? Apa ituuuu........ wkwkwkwkwkkkk.

Kalo si -invisible friend- di awang-awang sii bilang gini, “heh kamu, pake rumus modus ajah yang paling banyak positifnya.... pikir dah sekarang, kamu cuma berat di awal, berat untuk membunuh perasaan itu. Tapi imbal baliknya, kamu terjaga dari segala yang menyesatkan, kamu gak akan pernah mengecewakan orang tua, kamu bisa lebih fokus pada satu tujuan. Gampang.... Toh Allah punya rencana, Allah punya cerita. Kamu aktris nurut sutradara kan enak. Gitu aja ribet.”

Hoh, betul betul betull..... tapi ngomongnya biasa aja napa? :P

Bismillah... I’M FOLLOWING YOUR SCENARIO, RABB.... =)
I BELIEVE THAT LOVE’S NEVER DIE. Just it’s not the best time to grow.....

I know you through the heart, not my views.
I created you as a brother by the soul, not the perfunctory.
I do not know what you're looking at me.
as reasonable as what I'm in ukhuwah.
I only know ...
though with limitations and shortcomings,
I wrote your name in my heart
since our beginning in the shade of Islam.
Ukhibbukifillah :-)

Senin, 27 Desember 2010

hey,, ayo bangkitt :D

0 komentar
Lihat matahari bersinar..knapa ku masih d kamar?

Dengar burung berkicau..knapa hatiku risau?

Rasakan embun pagi yg segar..dan aq harus tegar... ;)

Inilah pagi,,inilah awal dari sebuah hari,,inilah awal dari mimpi.....

Ini bukan saatnya bersedih, Rin... :D

Makan biskuit,, ay0 bangkittt...

Cinta Cinta Cintaaaaaaaa

0 komentar
Ah aku mau sejenak melupakan LP dan askep yg sukses membuatku gilaaaaa.....
Sekarang saatnya menulis... melalui pintu ajaib menuju kolam penampungan isi hati dan pikiran...
Hmmm, aku bosand berbicara tentang kehidupan. Pengen sekali-sekali ngomongin cinta ah...... eh, emang cinta itu bukan tentang kehidupan apa??? Whatever.... ok, go go go......

Tau gakkkkkk......
Ririn lagi jatuh cintaaaaaa......... Aaaaaaaaaaa.......... :D
Tapi boong :P
Hlohh.......

Huh, kapok jatuh cinta.... kapok pacaran..... kapok punya pacar nyebelinnn.... >,<
Mulai sekarang aku gak akan mudah jatuh cinta,,
Gak akan gampang percaya sama makhluk berjenis kelamin cowok (kecuali bapakku, omku, mbahkungku, pakdeku, mas-masku dan adek-adekku).

Tapiiii........

Kok dia cakep yha.........heheheheheeeeeeeeee...
O’owwwwwww
“sepertinya kamu jatuh cinta, Rin.”
Haha........ ku pastikan ini bukan cinta.....
Cinta cuma bikin gilaaaaaaaaa.......
“Aku gk cinta, tapi suka” :x
Ah podo wae 0_o

Oke oke
Serius nih sekarang ^^,
Bismillah aku bertekad tak akan terlalu cepat jatuh cinta. Aku janji tak akan mudah dan tergesa untuk mengambil keputusan. Aku percaya cinta, aku bisa jatuh cinta, saat ini juga.
Teruntuk sang merah jambu yang kini sedang singgah di dalam hati...
Aku tak akan pernah memintamu pergi. Tumbuhlah jika kamu memang harus tumbuh menjadi besar. Jika hatiku bukan tempat hidup yang terbaik untukmu, carilah yang terbaik. Kau boleh tinggal, aku tak akan terbebani.... karena kau adalah anugerah :D

Udah ah mellow’a.....
Yang jelas, i’m following Rabb’s scenario.
Allah tau yang terbaik. Kita manusia cuma bisa usaha. Kalo bukan dia ya berarti orang lain.... gitu aja kok repot.
Udah, gak usah pake nangis gara-gara cowok inceran’a jadian sama cewek lain...... b’arti kita diberi kesempatan untuk belajar keikhlasan....
:D

Rabu, 06 Oktober 2010

Euthanasia

4 komentar
CHAPTER I
INTRODUCTION

1.1. Background

One of the most controversial debates is whether or not Euthanasia should be legalized and whether or not it is humane. A lot of people think that euthanasia or assisted suicide is needed so patients won’t be forced to remain alive by being "hooked up" to machines. But the law in some country already permits patients or their family to withhold or withdraw unwanted medical treatment even if that increases the likelihood that the patient will die. Therefore, no one needs to be hooked up to machines against their will. Neither the law nor medical ethics requires that "everything be done" to keep a person alive. To insist, against the patient’s wishes, that death be postponed by every means available is contrary to law and practice. It is also cruel and inhumane. There comes a time when continued attempts to cure are not compassionate, wise, or medically right. Euthanasia and assisted suicide are not private acts. Rather, they involve one person facilitating the death of another. This is a matter of very public concern since it can lead to tremendous abuse, exploitation and erosion of care for the most vulnerable people among us (Marker and Hamlon, 2010).

1.2. General Purposes
a. To explain about euthanasia and the types of euthanasia;
b. To explain the arguments against euthanasia;
c. To explain the law of euthanasia in some country;
d. To explain about religious views on euthanasia;
e. To give example of the case of euthanasia;
f. To explain the roles of nurses


CHAPTER II
CONTENTS

2.1. Definition of Euthanasia

Euthanasia is Greek for good death which translates into English as easy death or mercy killing. It was accepted by the ancient Greeks and Romans (Kasule, 2008).
There are two types of patients are involved in euthanasia. The first type is a patient in a persistent vegetative state who is awake but is no aware of self or the environment, such a patient has no higher brain function s and is kept alive on artificial live support (respirators, heart-lung machine, and intra-venous nutrition). And second types are patient in terminal illness with a lot of pain, psychological suffering and loss of dignity. The patient may or may not be on life-support (Kasule, 2008).

2.2. Types of Euthanasia
2.2.1. Active Euthanasia
Active Euthanasia is an act of commission, is taking some action that leads to death like a fatal injection. For example, administering a fatal dose of morphine to a terminally ill cancer patient (Kasule, 2008).

2.2.2. Passive Euthanasia
Passive Euthanasia is an act of omission, is letting a person die by taking no action to maintain life. Passive Euthanasia can be withholding or withdrawing water, food, drugs, medical or surgical procedures, resuscitation, and life support such as the respirator. The patient is then left to die from the underlying disease. Sometimes a distinction is made between normal nutrition and hydration on one hand and medical nutritional support involving intravenous and naso-gastric feeding on the other hand Passive Euthanasia is an act of omission, is letting a person die by taking no action to maintain life (Kasule, 2008).

2.2.3. Voluntary Euthanasia
Voluntary euthanasia can then by defined as a means chosen by an individual making a request on the basis of a voluntary decision not to have his life prolonged under specific circumstances of ill- health. The operative principles are voluntarism and self- determinism (Colabawalla, 2008).

2.2.4. Non-Voluntary Euthanasia

This is where the person is unable to ask for euthanasia (perhaps they are unconscious or otherwise unable to communicate), or to make a meaningful choice between living and dying and an appropriate person takes the decision on their behalf, perhaps in accordance with their living will, or previously expressed wishes (Kasule, 2008).
Situations in which the person cannot make a decision or cannot make their wishes known, includes cases where:
a. The person is in a coma.
b. The person is too young (e.g. a very young baby).
c. The person is senile.
d. The person is mentally retarded to a very severe extent.
e. The person is severely brain damaged.
f. The person is mentally disturbed in such a way that they should be protected from themselves.

2.2.5. Involuntary Euthanasia
Involuntary euthanasia, which is indistinguishable from murder or manslaughter, occurs when the act is done against the wishes of a competent individual or a valid advance directive (Kasule, 2008).

2.3. Arguments Against Euthanasia
2.3.1. Euthanasia would not only be for people who are "terminally ill."

There are two problems here, the definition of "terminal" and the changes that have already taken place to extend euthanasia to those who aren't "terminally ill." There are many definitions for the word "terminal." For example, when he spoke to the National Press Club in 1992, Jack Kevorkian said that a terminal illness was "any disease that curtails life even for a day." The co-founder of the Hemlock Society often refers to "terminal old age." Some laws define "terminal" condition as one from which death will occur in a "relatively short time." Others state that "terminal" means that death is expected within six months or less (Vernaw, 2008).
Even where a specific life expectancy (like six months) is referred to, medical experts acknowledge that it is virtually impossible to predict the life expectancy of a particular patient. Some people diagnosed as terminally ill don't die for years, if at all, from the diagnosed condition. Increasingly, however, euthanasia activists have dropped references to terminal illness, replacing them with such phrases as "hopelessly ill," "desperately ill," "incurably ill," "hopeless condition," and "meaningless life" (Vernaw, 2008).

2.3.2. Euthanasia can become a means of health care cost containment
"...drugs used in assisted suicide cost only about $40, but that it could take $40,000 to treat a patient properly so that they don't want the "choice" of assisted suicide..." ... (Wesley J. Smith, senior fellow at the Discovery Institute, 1997).
Legalized euthanasia raises the potential for a profoundly dangerous situation in which doctors could find themselves far better off financially if a seriously ill or disabled person "chooses" to die rather than receive long-term care (Vernaw, 2008).

2.3.3. Euthanasia will only be voluntary
Emotional and psychological pressures could become overpowering for depressed or dependent people. If the choice of euthanasia is considered as good as a decision to receive care, many people will feel guilty for not choosing death. Financial considerations, added to the concern about "being a burden," could serve as powerful forces that would lead a person to "choose" euthanasia or assisted suicide (Vernaw, 2008).
People for euthanasia say that voluntary euthanasia will not lead to involuntary euthanasia. They look at things as simply black and white. In real life there would be millions of situations each year where cases would not fall clearly into either category.
Legalized euthanasia would most likely progress to the stage where people, at a certain point, would be expected to volunteer to be killed (Vernaw, 2008).

2.3.4. Euthanasia is a rejection of the importance and value of human life
People who support euthanasia often say that it is already considered permissible to take human life under some circumstances such as self defense, but they miss the point that when one kills for self defense they are saving innocent life either their own or someone else's. With euthanasia no one's life is being saved life is only taken (Vernaw, 2008).
History has taught us the dangers of euthanasia and that is why there are only two countries in the world today where it is legal. That is why almost all societies’ even non-religious ones for thousands of years have made euthanasia a crime. It is remarkable that euthanasia advocates today think they know better than the billions of people throughout history who have outlawed euthanasia (Vernaw, 2008).

2.4. The Law of Euthanasia in Some Country
2.4.1. United State of America

In early 2006 Oregon was the only state with a law allowing physician-assisted suicide and then only in limited circumstances. Attempts to allow assisted suicide have been defeated in California, Washington, Michigan, Maine, and Wyoming (Miller, 2004).
In November 1994 Oregon voters approved Measure 16 by a vote of 51% to 49%, making Oregon the first jurisdiction in the United States to legalize physician-assisted suicide. Under the Oregon Death with Dignity Act (ODDA), a mentally competent adult resident of Oregon who is terminally ill (likely to die within six months) may request a prescription for a lethal dose of medication to end his or her life. Critics charge that assisted death is now "state-subsidized" because Medicaid money may be used to pay for physician-assisted suicide for the poor (Miller, 2004).
Between 1994 and 1997 the ODDA was kept on hold due to legal challenges. In November 1997 Oregonians voted to defeat a measure to repeal the 1994 law. Immediately after this voter reaffirmation of the Death with Dignity Act, the Drug Enforcement Administration (DEA) warned Oregon doctors that they could be arrested or have their medical licenses revoked for prescribing lethal doses of drugs.
Key facts for euthanasia:
a. At least two doctors must concur on diagnosis, prognosis and the patient's capability;
b. The patient must provide a written request to their physician witnessed by two individuals who are not family members or primary caregivers;
c. The patient must ultimately administer the prescription him/herself.
2.4.2. Netherlands
Euthanasia and assisted suicide have been widely practiced in the Netherlands for a number of years.
Both euthanasia and assisted suicide have been widely practiced in the Netherlands since 1973 although they were against the law until 2002. The Dutch situation between 1973 and 2002 was an outgrowth of a series of court decisions and medical association guidelines, beginning with a 1973 District Court case in which Geertruida Postma, a Dutch physician, was convicted of the crime of euthanasia after she ended the life of her seriously ill mother (Lagerway, 1988).
While finding Dr. Postma guilty of the crime of mercy killing that was punishable by imprisonment for a maximum of 12 years, the court imposed a one-week suspended sentence and a week’s probation (Gomez, 1991).
On the initiative of physicians and with the support of the Dutch Medical Association, other cases followed, each widening the boundaries and further liberalizing the conditions under which euthanasia and assisted suicide, although remaining illegal, would not be punished.
On April 10, 2001, the Dutch Parliament approved the "Termination of Life on Request and Assisted Suicide (Review Procedures) Act." It amended sections of the criminal code, specifically stating that the offenses of euthanasia and assisted suicide are not punishable if they have been "committed by a physician who has met the requirements of due care" that are described in the act and if they have informed the municipal "autopsies" in accordance with the Burial and Cremation Act (Gomez, 1991).
The inclusion of "due care" requirements transformed the crimes into medical treatments as physicians had advocated. Under the new law, minors between sixteen and eighteen may request that their lives be terminated and, although parents or guardians must be consulted, they have no authority to prevent the requested death. Children between the ages of twelve and sixteen may request euthanasia or assisted suicide but a parent or guardian must agree with the decision (Gomez, 1991).
In addition, the law recognizes the right of a physician to carry out euthanasia based on a written advance request for death of a currently incapacitated patient who is 16 years old or older (Although the person must be at least 16 years old to be euthanized there is no requirement that one be at least 16 when the request is put in writing).

2.4.3. Belgium
The Belgian act legalizing euthanasia was passed on May 28, 2002 and went into effect on September 23, 2002. It limits euthanasia to competent adults and emancipated minors (European Journal of Health Law, 2003).
Embrace of euthanasia by medical professionals has led to the formulation of more convenient ways to end patients’ live. In early 2005, a pharmaceutical company announced that home "euthanasia kits" would be available soon in more than two hundred Belgian pharmacies so that doctors could carry out in-home deaths with greater ease. Reports indicated that the kits will contain a barbiturate, a paralyzing agent, an anesthetic, and instructions for use, and will cost approximately 45 Euros (Hovine, 2005).
As in the Netherlands, the practices of euthanasia and assisted suicide in Belgium illustrate how rapidly induced death, first accepted for difficult cases, expands to death-on-demand and how that actual demand need not be made by the victim (Hovine, 2005).

2.4.4. England
Euthanasia is illegal in all countries of the United Kingdom. However, as a devolved matter to the Scottish parliament, it is possible that at some point in the future different laws on euthanasia could apply within the UK (Parliament,2009).
In 1935, Lord Moynihan and Dr. Killick Millard founded the British Voluntary Euthanasia Society (now known as EXIT) which created A Guide to Self Deliverance which gave guidelines on how a person should commit suicide. This publication caused a controversy because of the Suicide Act of 1961 which states that the legal system can allow up to 14 years in prison for anyone that assists in a suicide (Gorman, 2008).
The Suicide Act 1961 makes it illegal to aid, abet, counsel or procure the suicide of another and sets a maximum prison sentence of 14 years. Although it is illegal to assist a patient in committing suicide, many doctors still assist their patients with their wishes by withholding treatment and reducing pain, according to a 2006 article in the Guardian. This, however, is only done when the doctors feel that death is a few days away and after consulting patients, relatives or other doctors.
The Nuffield Council on Bioethics launched an enquiry in 5th November 2006 into critical care in fetal and neonatal medicine, looking at the ethical, social and legal issues which may arise when making decisions surrounding treating extremely premature babies (Kate, 2007).
2.4.5. Indonesia
In Indonesia, the law of euthanasia is illegal. This statement is obtained in 344th section Kitab Undang-undang Hukum Pidana (”Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”). And also in 338th section (“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain karena pembunuhan biasa, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.”), 340th section(“Barang siapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, karena bersalah melakukan pembunuhan berencana, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun.”) of KUHP.
Farid Anfasal Moeloek from Ikatan Dokter Indonesia said that euthanasia or well death is rejected by the value and ethics of Indonesian.

2.5. Religious views on euthanasia

There are many different religious views on euthanasia, although many moral theologians are critical of the procedure.
2.5.1. Euthanasia and suicide in Islam
Islam categorically forbids all forms of suicide and any action that may help another to kill them. It is forbidden for a Muslim to plan, or come to know through self-will, the time of his own death in advance. The precedent for this comes from the Islamic prophet Muhammad having refused to bless the body of a person who had committed suicide. If an individual is suffering from a terminal illness, it is permissible for the individual to refuse medication and/or resuscitation.
a. Life is sacred
Euthanasia and suicide are not included among the reasons allowed for killing in Islam.
Do not take life, which Allah made sacred, other than in the course of justice. (Qur'an 17:3)
b. Allah decides how long each of us will live
When their time comes they cannot delay it for a single hour nor can they bring it forward by a single hour. (Qur'an 16:6)
And no person can ever die except by Allah's leave and at an appointed term. (Qur'an 3:14)
c. Suicide and euthanasia are explicitly forbidden
Destroy not yourselves. Surely Allah is ever merciful to you. (Qur'an 4:29)
The Prophet said: "Amongst the nations before you there was a man who got a wound and growing impatient (with its pain), he took a knife and cut his hand with it and the blood did not stop till he died. Allah said, 'My Slave hurried to bring death upon himself so I have forbidden him (to enter) Paradise.' “(Sahih Bukhari 4.56.66)

2.5.2. Euthanasia and suicide in Christian
Christians are mostly against euthanasia. The arguments are usually based on the beliefs that life is given by God, and that human beings are made in God's image. Some churches also emphasize the importance of not interfering with the natural process of death (British Broadcasting Corporation, 2009).
a. Life is a gift from God
All life is God-given. Birth and death are part of the life processes which God has created, so we should respect them. Therefore no human being has the authority to take the life of any innocent person, even if that person wants to die.
b. Human beings are valuable because they are made in God's image
Human life possesses an intrinsic dignity and value because it is created by God in his own image for the distinctive destiny of sharing in God's own life. The process of dying is spiritually important, and should not be disrupted.
Many churches believe that the period just before death is a profoundly spiritual time. They think it is wrong to interfere with the process of dying, as this would interrupt the process of the spirit moving towards God (British Broadcasting Corporation, 2009).
c. All human lives are equally valuable
Christians believe that the intrinsic dignity and value of human lives means that the value of each human life is identical. They don't think that human dignity and value are measured by mobility, intelligence, or any achievements in life.
d. Exceptions and omissions
Some features of Christianity suggest that there are some obligations that go against the general view that euthanasia is a bad thing:
1) Christianity requires us to respect every human being.
2) If we respect a person we should respect their decisions about the end of their life.
3) We should accept their rational decisions to refuse burdensome and futile treatment.
4) Perhaps we should accept their rational decision to refuse excessively burdensome treatment even if it may provide several weeks more of life.
e. End of life care
The Christian faith leads those who follow it to some clear-cut views about the way terminally ill patients should be treated.
The Roman Catholic view, Euthanasia is a grave violation of the law of God, since it is the deliberate and morally unacceptable killing of a human person. (Pope John Paul II, Evangelism Vitae, 1995).
As Catholic leaders and moral teachers, we believe that life is the most basic gift of a loving God – a gift over which we have stewardship but not absolute dominion. (National Conference of Catholic Bishops (USA), 199).
The Roman Catholic Church does not accept that human beings have a right to die. Human beings are free agents, but their freedom does not extend to the ending of their own lives. Euthanasia and suicide are both a rejection of God's absolute sovereignty over life and death (British Broadcasting Corporation, 2009).

2.5.3. Euthanasia and suicide in Hinduism

Most Hindus would say that a doctor should not accept a patient's request for euthanasia since this will cause the soul and body to be separated at an unnatural time. The result will damage the karma of both doctor and patient. Other Hindus believe that euthanasia cannot be allowed because it breaches the teaching of ahimsa (doing no harm).
For Hindus, culture and faith are inextricable. So although many moral decisions taken by Hindus seem more influenced by their particular culture than by the ideas of their faith, this distinction may not be as clear as it seems.
Karma is Hindus believe in the reincarnation of the soul (or atman) through many lives - not necessarily all human. The ultimate aim of life is to achieve moksha, liberation from the cycle of death and rebirth. A soul's next life is decided by karma, as the consequence of its own good or bad actions in previous lives (British Broadcasting Corporation, 2009).
Non-violence is another important principle is ahimsa, not being violent or causing harm to other beings (British Broadcasting Corporation, 2009).
Dharma is Hindus live their lives according to their dharma - their moral duties and responsibilities. The dharma requires a Hindu to take care of the older members of their community (British Broadcasting Corporation, 2009).
Death: The doctrine of karma means that a Hindu tries to get their life in a good state before they die, making sure that there is no unfinished business, or unhappiness’s. They try to enter the state of a sannyasin - one who has renounced everything.
The ideal death is a conscious death, and this means that palliative treatments will be a problem if they reduce mental alertness. The state of mind that leads a person to choose euthanasia may affect the process of reincarnation, since one's final thoughts are relevant to the process. There are two Hindu views on euthanasia:
a. By helping to end a painful life a person is performing a good deed and so fulfilling their moral obligations.
b. By helping to end a life, even one filled with suffering, a person is disturbing the timing of the cycle of death and rebirth.
Prayopavesa, or fasting to death, is an acceptable way for a Hindu to end their life in certain circumstances (British Broadcasting Corporation, 2009).
Prayopavesa is only for people who are fulfilled, who have no desire or ambition left, and no responsibilities remaining in this life. It is really only suitable for elderly ascetics. Hindu law lays down conditions for prayopavesa:
a) Inability to perform normal bodily purification.
b) Death appears imminent or the condition is so bad that life's pleasures are nil.
c) The decision is publicly declared.
d) The action must be done under community regulation.
An example of prayopavesa:
Satguru Sivaya Subramuniyaswami, a Hindu leader born in California, took his own life by prayopavesa in November 2001.
After finding that he had untreatable intestinal cancer the Satguru meditated for several days and then announced that he would accept pain-killing treatment only and would undertake prayopavesa - taking water, but no food. He died on the 32nd day of his self-imposed fast (British Broadcasting Corporation, 2009).

2.5.4. Buddhism, euthanasia and suicide

Buddhists are not unanimous in their view of euthanasia, and the teachings of the Buddha don't explicitly deal with it. Most Buddhists (like almost everyone else) are against involuntary euthanasia. Their position on voluntary euthanasia is less clear (British Broadcasting Corporation, 2009).
The most common position is that voluntary euthanasia is wrong, because it demonstrates that one's mind is in a bad state and that one has allowed physical suffering to cause mental suffering. Meditation and the proper use of pain killing drugs should enable a person to attain a state where they are not in mental pain, and so no longer contemplate euthanasia or suicide. Buddhists might also argue that helping to end someone's life is likely to put the helper into a bad mental state, and this too should be avoided.
Buddhists regard death as a transition. The deceased person will be reborn to a new life, whose quality will be the result of their karma (British Broadcasting Corporation, 2009)
The Buddha himself showed tolerance of suicide by monks in two cases. The Japanese Buddhist tradition includes many stories of suicide by monks, and suicide was used as a political weapon by Buddhist monks during the Vietnam War. But these were monks, and that makes a difference. In Buddhism, the way life ends has a profound impact on the way the new life will begin. So a person's state of mind at the time of death is important - their thoughts should be selfless and enlightened, free of anger, hate or fear. This suggests that suicide (and so euthanasia) is only approved for people who have achieved enlightenment and that the rest of us should avoid it (British Broadcasting Corporation, 2009).

2.6. Case of Nancy Cruzan
On January 11, 1983, 25-year old Nancy Cruzan was driving alone on an icy road, lost control of her vehicle, and was seriously injured in the resulting accident. She never regained consciousness and became one of the approximately ten thousand Americans living in a persistently comatose state.
Contrary to persistent media lies, she was not in a "persistent vegetative state;" her medical status was that of a "severely handicapped" person. She required no life support machinery other than a feeding tube implanted in her stomach in early 1983. She was not terminally ill.
However, she was now an inconvenience to many people; the health care system, the state, and in particular her parents, Joe and Joyce Cruzan. But she was the opportunity of a lifetime for pro-euthanasia.
Cruzan could not be killed without being dehumanized first, a task expertly performed by Dr. Fred Plum, Chief of Neurology at the Cornell New York Hospital.
Nancy's parents petitioned a lower court to order the Missouri Rehabilitation Center at Mount Vernon to starve their daughter. The court granted the petition, but the Missouri Supreme Court overturned the lower court decision, ruling that a decision to withhold or refuse treatment must be an "informed" one, and, most importantly, that the State's interest in human life does not depend on the quality of that life.
The Supreme Court narrowly averted making this case euthanasia's Roe v. Wade by denying that the so-called "right to die" is unfettered and absolute. The justices ruled that the States may require "clear and convincing" evidence that comatose persons actually wished to die before they lost their ability to decide their own fates.
The Court essentially held that the states do not have to yield to family member's demands when a patient's wishes cannot be concretely determined.
The ruling, however, indicated that there is a Constitutional right to refuse tube feeding and other life-sustaining measures when patients make their wishes clearly known before they become incompetent.
So a determined Joe and Joyce Cruzan headed back to the Missouri courts, and rounded up a string of Nancy's co-workers who were willing to testify that she would never want to live "like a vegetable." Nobody bothered to explain how her co-workers could all remember such a statement so clearly after eight years — or why, at the young age of 25, she would say such a thing.
During this phase, Nancy enjoyed no representation of any kind in the state court; no-one testified for her, because all those who wanted her to live were ruled non-parties by the judge. The outcome of the one-sided hearing was a foregone conclusion.
So the Court sentenced Nancy to death by starvation. Her feeding tube was disconnected on December 14, 1990 at the Missouri Rehabilitation Center in Mount Vernon, Missouri.
In a chilling portent of the future, the first rescue mission mounted to save a born person from death occurred on Tuesday, December 18, 1990. Police arrested 19 rescuers as they tried to reach Nancy's hospital room and charged them with criminal trespass and unlawful assembly, they same charges they encountered at abortion mills.
Scores of armed police officers patrolled the halls of the Missouri Rehabilitation Center until Nancy Cruzan finally died of starvation and thirst after 12 days, on the day after Christmas 1990 (Nachtigal, 1990).

2.6.1. Analyzing Case of Nancy Cruzan

From the United State of American’s law, this case is illegal because it’s not in Oregon. But Doron Webster of the New York chapter of the Society for the Right to die stated ominously, "We feel that Nancy Cruzan has made legal history." (The Oregonian, December 27, 1990, pages 1 and 12)
Beside the Christian religion, the case of Nancy Cruzan is rejected because birth and death are part of the life processes which God has created, so people should respect them. Therefore no human being has the authority to take the life of any innocent person, even if that person wants to die.


2.7. Nurses Roles in United State

In sequential order, the way participating palliative care nurses viewed their roles in the different phases of euthanasia.

2.7.1. Hearing the request for euthanasia
Interviewed nurses reported that the caregivers' role in euthanasia involved more than simply administering a lethal medication. The care process began when the patient formulated a euthanasia request. Palliative care nurses felt they played an important role during this phase, as their experiences taught them that a nurse's professional attitude could dissuade the patient from pursuing euthanasia. This professional attitude entailed nurses accepting the euthanasia request with “active openness”, thus taking the request seriously rather than passing it over as unimportant. It also required that nurses took the time to listen carefully to patients, with the aim of uncovering their reasons for requesting euthanasia. Identifying these reasons is critical to formulating an adequate palliative response to deal with the specific issues of suffering that underlie the euthanasia request. According to palliative care nurses, improper euthanasia requests often originate from suffering that can be alleviated by alternative courses. Palliative care nurses observed that, by offering palliative care alternatives, many improper requests for euthanasia were withdrawn and undignified deaths were avoided (Gastmans, 2005).


2.7.2. Participating in the decision making process
Nurses stated that every persistent request for euthanasia must be addressed and discussed openly. The palliative care nurses we interviewed argued in favor of an interdisciplinary decision making process, requiring nurses' input. The participation of nurses in this process was deemed crucial because of the nurses' expertise in dealing with terminally ill patients and their unique, close relationship with these patients. A fundamental element of the patient/nurse relationship is continuity: daily follow up gives the nurse insight into the patient's experiences and how these experiences may develop and contribute to the patient's request for euthanasia. Because a nurse's viewpoints are not based on momentary impressions, euthanasia requests deemed impulsive can be largely excluded. As mentioned, nurses are uniquely positioned to gauge the validity of euthanasia requests (Gastmans, 2005).
Palliative care nurses indicated that their close and often physical dealings with their patients foster a trusting environment in which in depth discussions can safely take place. Through this intimacy, nurses can communicate the significance of the patients' suffering to other caregivers. In addition, because of their holistic training, nurses can gain insight into the physical, psychological, social, and spiritual dimensions of the patient's suffering. This ensures that the euthanasia decision making process is not based on a one sided interpretation of the situation (Gastmans, 2005).


2.7.3. Participating in the execution of euthanasia

Concerning the actual act of performing euthanasia, palliative care nurses saw their role primarily as assisting the patient, the patient's family, and the physician by being present, even if they could not reconcile their morals with actually carrying out a request for euthanasia. Nurses were willing to set personal convictions aside in order to meet their patients' needs in a professional manner, especially since they viewed dying as a significant event during which the patient could not be left alone. Nevertheless, the nurses also felt that their presence during the administration of the lethal drug was justified only when in compliance with the patient's wishes (Gastmans, 2005).

2.7.4. Supporting family members and colleagues

The palliative care nurses we interviewed believed they had an important role in supporting the patient's family once their loved one had passed away. Euthanasia can give rise to questions, doubts, and feelings of guilt in family members, possibly resulting in a pathological mourning process. Relatives might need reassurance about making the right decision. These nurses also indicated that family members might need someone who would listen to their thoughts and feelings (Gastmans, 2005).
Having good communication with the patient's relatives also served as a great relief for our participant nurses.



2.8. Nurses Roles in Indonesia

Beside the law, whatever the reasons, euthanasia in Indonesia is illegal. The nurse should give education and keep communication with the patients and their family. As long as they can stay alive, they must keep it. But, some statement said that euthanasia can be permitted for specific condition when the patient just can stay alive by the life support such as the respirator, and it can be removed because there are some patients who have more life chance (wordpress, 2008).


CHAPTER III
CLOSURE

3.1. Conclusion

Euthanasia is the act of putting a person or animal to death painlessly or allowing them to die by withholding medical services, usually because of a painful and incurable disease. There are two arguments about this case. They are pro and contra whether in our country and abroad. Euthanasia in some state is rejected. In our country “Indonesia”, it is rejected by the value and ethics of Indonesian. There are many different religious views on euthanasia, although many moral theologians are critical of the procedure. People argue that euthanasia is legal because it can help the client and their family from the misery. But, some people argue that euthanasia is illegal because it is opposite with fate of God. As a nurse we must use our professional to solve this case.



REFERENCES


British Broadcasting Corporation. 2009. “Religion and Assisted Suicide”. From http://www.bbc.co.uk/religion.shtml. Viewed on April 4, 2010.

Gastmans. July 12, 2005. “Nurses' views on their involvement in euthanasia”. From http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2565778/. Viewed on April 6, 2010.

Gomez. 1991. “Assisted Suicide & Death with Dignity”. From http://www.internationaltaskforce.org/rpt2005_3.htm#29. Viewed on April 4, 2010.

Gorman. 2008. “Euthanasia”. From http://en.wikipedia.org/wiki/Euthanasia. Viewed on April 4, 2010.

Kasule. 2010. “Euthanasia: Ethic-Legal Issues”. From http://www.missionislam.com/health/euthanasia.htm. Viewed on March 26, 2010.

Miller. 2004. “Euthanasia Suicide and Physician-Assisted Suicide - The Battle Over Legalizing Physician-assisted Suicide”. From http://www.libraryindex.com/pages/3124/Suicide-Euthanasia-Physician-Assisted-Suicide-BATTLE-OVER-LEGALIZING-PHYSICIAN-ASSISTED-SUICIDE.html. Viewed on March 29, 2010.

Nachtigal. December 27, 1990. "Nancy Cruzan Dies Peacefully". From http://www.hli.org/index.php/the-facts-of-life/614?task=view. Viewed on April 4, 2010.

Vernaw. July 29,2008. “Euthanasia”. From http://www.oppapers.com/essays. Viewed on March 26, 2010.

Minggu, 22 Agustus 2010

Nggak Usah Sedih, Allah Bersama Kita

0 komentar
“Huft.... Lagi-lagi sedih. Lagi-lagi kecewa. Lagi-lagi sakit hati.”
Astagfirullah.....

Aku bicara dari hati, pertama untuk diriku sendiri. Selanjutnya (insyaallah) untuk sahabat yang visit page ini. Semoga menjadi manfaat (amin).

Aku nih manusia biasa. Dikaruniai hati untuk merasa sedih, bisa juga sakit hati. Penyebabnya banyaaaaak banget. Misalnya pas gagal, pas keinginan gak kecapai, atau pas dikecewain.

Yah dikecewain.... kepikiran juga satu hal, ternyata konyol. Aku kecewa karena manusia. Menyalahkan dia dia dan dia yang mungkin saja kita sama-sama khilaf. Kenapa tak berusaha minta maaf ataupun memaafkan? Kenapa tak berusaha ikhlas? Tapi aku masih dalam tahap belajar. Bimbing aku ya Rabb.......

Sering kali kesedihan mengalahkan segalanya. Kekecewaan mematikan semangat. Membunuh karakter. Tapi haruskah kita berada diantaranya? Astagfirullah... sesungguhnya kita telah mendustai nikmat-Nya.

“nggak usah sedih kawan, Allah beserta kita”
Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal huzni. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan duka cita.

Aku ingat betul ucapan seorang sahabat. “Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian, Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan, Allah melatih ketegaran dalam kesedihan, Allah memberi kemudahan dan kebahagiaan setelah kesulitan.” Subhanallah....

Belajar dari kehidupan kadang lebih nyata. Ketika seorang sahabat bertanya, “bagaimana cara kita belajar keikhlasan?” aku berani bicara, “keikhlasan itu adanya di hati. Tak seorangpun bisa mengajarimu kecuali dirimu sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita yakin bahwa Allah itu ada untuk kita. Yakin bahwa garis yang dibuat Allah itu adil.” Tapi sungguh waktu itu aku belum benar-benar paham tentang keikhlasan. Mungkin aku terlalu berani bicara. Terlalu PeDe kalo orang bilang. Tapi siapa sangka aku bisa belajar dari ucapanku sendiri. :-)

Kawan, yuk kita sama-sama belajar ikhlas. Ikhlas menghadapi kegagalan, ikhlas menghadapi ujian, ikhlas menjalani kehidupan seberat apapun itu, ikhlas karena Allah. Buat apa sedih kalau ternyata ceria lebih menyenangkan. Buat apa menangis kalau ternyata senyum lebih indah dipandang. Life Must Go On....... gaboleh mandeg.

Kata Bondan, “Janganlah kau bersedih, cause everything’s gonna be okey.”

Ok, ingat 5s. Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun (lhoh, slogan PoLteKkes kuiiii.. hehe).

Selasa, 17 Agustus 2010

Bintang KeciLL

2 komentar
Nie post haruzna d blog ve-rynz... tp mbuh kok gak bisa upload pict. yawdah refresh disini aje yee....

Wezzzzzzzz...... gak usah pake embel-embel yahh. Langsung aja simak cara bikin origami lucky star.

Alatnya simpell. Cuma kertas ukuran kira-kira 30 cm lebar 1 cm. Kalo mau beli,ada. Tinggal bilang aja beli kertas bintang-bintang gitu. Biasanya dijual di toko pernak-pernik atau toko kertas. Hmm, kalo aku sih....... berhubung maunya irit (hehe) pake kertas kalender ajah. Agak ribet sii, cz musti potong-potong sendiri. Tapi gakpapalah.
Ok, let me tell u d’instruction (pake gambar aja yahh, bingung aku mo bikin pake kalimat. Heee).





Kamis, 12 Agustus 2010

Dedicated to DINA, untuk Keteguhan Hatinya

0 komentar
“menangislah, karena kamu manusia biasa”

Kawan, seandainya aku ada di posisimu mungkin aku telah jatuh sejak kemarin. Benar kalau kamu bilang aku tak pernah merasakan apa yang sekarang kamu rasakan, tapi aku tau rasanya. Benar kalau kamu bilang aku tak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan, tapi aku telah belajar dari kamu (dan memang sakit rasanya).

Mungkin aku hanya diam ketika kamu mengatakan bahwa kamu sakit hati, bahwa kamu tak kuat menerima kenyataan ini, bahwa kamu tak siap ditinggal pergi, bahwa kamu menyesal pernah melakukan kesalahan sebelumnya, dan bahwa kamu tak kuat melihat ayah bundamu berubah karena sesuatu hal yang banyak membawa perubahan itu. Tapi percayalah, tak berarti acuh atau tak peduli karena aku diam.

Menangislah kawan. Karena aku, kamu, dan mereka hanyalah manusia biasa. Lemah oleh takdir, tapi aku yakin, bisa kuat juga karena takdir. Menangislah, lepaskan bebanmu perlahan, lalu mulai ikhlaskan semua.
Jika kamu mengerti, mungkin memang ini jalan terbaik yang Allah rencanakan. Jika kamu memahami, mungkin Allah lebih menghendaki adikmu bahagia di sisi-Nya, meski tanpa kamu mengetahuinya.

Aku dan teman-teman yang lain ada untukmu. Tersenyum, bangga karena keteguhan hatimu. Meskipun aku mengerti, ikhlas itu perlu proses. Tapi kamu bisa kawan.

Tersenyumlah kawan, jadilah dirimu dan diri adikmu untuk keluargamu. Dan berharap semua akan menjadi seperti harapanmu :-)

Selasa, 10 Agustus 2010

3 days

0 komentar

Kawan, tahukah kau bahwa hanya tiga hari dalam hidup ini yang paling bermakna. Tiga hari yang akan menentukan akan jadi apakah kita ke depan.

Pertama: Kemarin
Lepaskan saja apa yang telah terjadi kemarin. Karena tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah hari kemarin. Perkataan yang terucap tak akan pernah dapat diralat. Kesalahan yang kita perbuat kemarin tak mungkin dihapus dan mengulanginya dari awal. kebahagiaan dan kegagalan hari kemarin jadikanlah pengalaman dan pelajaran. Perumpamaan membaca sebuah novel, ambil makna yang terkandung.

Kedua: Hari Esok
Kawan, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok. Esok hari belum tiba, biarkan saja.

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup. Pintu masa depan pun belum terbuka.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini . Karena masa lalu dan masa depan hanyalah pemainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat,meski mereka berlaku buruk pada kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini kawan. Karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kita sendiri.
Jadi, Jangan biarkan masa lalu mengekang, atau masa depan membuat kita bingung, lakukanlah yang tebaik HARI INI dan lakukan sekarang juga, kawan.

inspired by: Page seorang sahabat

Lihat Bapakmu, Kawan

0 komentar

-Copaz dari page seorang sahabat. Sebuah tulisan dimana terdapat sejuta kebaikan. semoga bermanfaat. Enjoy this note...
Thankz to Renungan dan Kisah Inspiratif’s page.-


Kau Kini tumbuh besar kawan,
Kau lihat Ayah semakin menua dan melemah

Kini,
Dia berbeda dengan yang dulu
Dulu Ia berani berbicara dengan nada keras ketika kau salah
Tapi kini, nadanya suaranya begitu rendah padamu
Dulu ia berani otoriter terhadapmu,
Tapi kini kau selalu di minta pendapat olehnya
Dulu tangannya begitu mudah melayang padamu
Kini tangannya sulit untuk menyentuhmu dengan kekasaran

Ia menyekolahkanmu,
Sehiingga ia menghargaimu bahwa Engkau orang berilmu
Ia melihat kau mulai berprestasi,
Sehingga Ia melihatmu tidak sebagai orang biasa
Ia melihatmu diperlukan banyak orang
Sehingga ada rasa segan padanya untuk memperlakukanmu sebagaimana dulu
Ia melihat Dirimu sudah bisa mencari uang
Sehingga Dia merasa bahwa kau sudah madiri

kawan,
Apakah karena berilmu,
lalu kita berani membodoh-bodohkan bapak tua kita
Apakah karena sudah bisa mencari uang sendiri lalu kita perlakukan mereka seperti babu
Apakah karena kita diperlukan banyak orang,
kita anggap mereka tak berharga
Kita sibuk dengan karier… tanpa ada sapa untuk mereka
Apakah karena Kau sudah merasa Menjadi raja, kau Anggap mereka Pembantu atau orang kampong pinggiran yang tak berguna

lihatlah kau sudah mulai lupa cium tangan, cium pipi dan kening pada ibu

Bodoh sekali, kalau semua itu membuat kita
Memandang rendah bapak dan ibu,
Hanya karena Alasan karier, uang, profesi, dan teman-teman yang belum tentu setia
Telah membeli drajat kita sebagai manusia.
Kalau diantara kita ada yg seperti itu!!
KAU telah menjual bapak dan ibumu,
kau telah menghilangkan kerinduan dalam hati mereka memiliki seorang anak.
Setelah sekian lama diperjuangkan, kini kau melupakannya…
Untuk apa kau hidup, kau bekerja, kau belajar… percuma!!!

Ingat,
Mereka semakin menghargaimu semakin kau bertambah besar,
Ia juga semakin besar menyimpan harapan dipundakmu…
Karena Kau anak yang ia Banggakan, anak yang ia jagokan kawan…
Tangismu tak berguna kawan, buatlah mereka tersenyum dan menangis memiliki anak sepertimu.
Bukan menangis sakit hati, tapi bangga. Bahwa Anaknya… anaknya yang dulu ia dambakan...

Rabu, 28 Juli 2010

muslimah ituuuuu

2 komentar


copas dari tulisan sahabat muslimah :-)

MUSLIMAH YANG CANTIK,
tidak dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona,
tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya. . . . .

MUSLIMAH YANG SANTUN,
tidak dilihat dari keberaniannya berpakaian,
tetapi,dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatanya. . . . .

MUSLIMAH YANG BERANI,
tidak dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan,
tetapi,kekhawatiran akan dirinya yang membuat orang tergoda. . . . .
Subhanallah. . .^^

MUSLIMAH YANG CERDAS,
tidak dilihat dari keahliannya berbicara,
tetapi,dari bagaimana caranya berbicara. . . . .

MUSLIMAH YANG TABAH,
tidak dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang dijalani,
tetapi,dari sejauh mana dia menghadapi ujian dengan kesabarannya. . . . . .

MUSLIMAH YANG MERDU,
tidak dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya,
tetapi,dari apa yang sering lisannya ucapkan. . . . . .

MUSLIMAH YANG JELITA,
tidak dilihat dari kecantikan parasnya,
tetapi,dari kecantikan yang tersembunyi didalam hati. . . . . .

MUSLIMAH YANG BAIK,
tidak dilihat dari begitu banyaknya dia melakukan kebaikan,
tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu. . . . . .

MUSLIMAH YANG GAUL,
tidak dilihat dari sifat supelnya bergaul,
tetapi,dari sejauh mana ia menjaga kehormatanya dalam bergaul. . . . . .

-Renungan Kisah Inspiratif-

Jumat, 16 Juli 2010

Cowok Idaman

4 komentar
Hmm......... gak ada kerjaan nih. Ngadep laptop dan mulai menulis. Hehe...

Ini nih yang aku lagi pengen tulis. Tentang tipe cowok idaman (sekali-sekali ngomongin cowok gak apa lah yhaaa).

Kalo aku tanya tentang cowok idaman, pasti deh jawabnya yang seiman, ganteng, kaya, setia, tanggung jawab, dll. It’s ok, kalo boleh jujur sih cowok idamanku juga gak jauh-jauh dari situ. Yah, sedikit banyak ada bedanya lah.

Pernah aku tanya ibukku, “ibuk pengen punya menantu kayak apa?” (haduuuhhh, konyol juga sih. secara baru 18 tahun).

Jawaban ibukku simpel, “rajin sholat, bisa ngaji, ngerti agama.”

Dibikin bengong dah. Rajin sholat, bisa ngaji, ngerti agama. Kata masku, “dipikir dewe.” Halahh, malah ngajak main tebak-tebakan coba. Mikirnya besok aja lah. Dan seperti biasa, aku lupaaa.... heheeee.

Sik sik....

Aku pengen crita sik.
Semalem aku terpesona liat cowok yang punya pustur agak ndud, tinggi, tapi peritnya gak buncit. Hehe. Gak cakep-cakep amat siih, tapi kereeeennnn (>,<). Uhh, tapi sayang ketemunya cuma di mimpi :’(.

Pas udah bangun jadi inget tuh kata ibukku dulu. “rajin sholat, bisa ngaji, ngerti agama.” Lhah tu cowok yang di mimpi bisa sholat gak? Ngerti agama gak? Atau jangan-jangan malah non islam. Gubrag.... yang namanya mimpi kan gak bisa ditawar Rinn :-D.

Kembali ke laptop.... maksudku pokok materi yang mau aku tulis di laptop. Hoho...

Kenapa sih harus rajin sholat, bisa ngaji, ngerti agama??

Setelah dipikir-pikir, direnungkan dan dimengerti betul-betul, ternyata bener juga loh kata ibukku. Gak perlu kaya, gak perlu cakep, gak perlu anak pejabat, kalo itu semua gak bisa jadi jaminan buat masuk surga.

Yang pertama, jelas harus rajin sholat. Lhah kalo sholatnya bolong-bolong kan gak bisa di tambal. Kepela keluarga kayak gitu gimana anggotanya??

Trus yang kedua bisa ngaji. Mungkin maksudnya biar bisa ngajari anak-anaknya kali yaa? “tapi kan istrinya juga bisa ngaji?” Lha ntar kalo istrinya ngajari ngaji, suaminya yang suruh masak gitu yaaa... setuju??? Hehehe.....

The last, ngerti agama dan prakteknya. Simpel sih, tapi kalo dijabarkan bisa sepanjang rel kereta. Hmm, gini... tanggung jawab, bebas rokok dan barang haram lain, bisa menjaga diri, menafkahi keluarga dengan segala sesuatu yang halal, sabar dan bijaksana, membimbing keluarga di jalan Allah, dan menjaga keutuhan rumah tangga itu kan bagian dari ajaran agama. Kalo paham pastilah dilakukan.

O iya, nih ada tambahan dari dosenku, “Muslim itu harus kaya, biar lebih gampang masuk surga.” Setuju gak nih kalian? Nalarnya tuh yaa, kalo muslim kaya kan lebih gampang buat ibadah, contohnya bantuin saudara-saudara kita yang butuh bantuan. Tapi kalo aku pribadi siih.... sukur-sukur kaya, kalo gak kaya ya cukupan aja. Toh amal bukan cuma diwujudkan dalam bentuk materi kan. Hehe....

Sekarang kalo ditanya, “lha kamu ngomong banyak gitu, emang udah ada pandangan tentang cowok idaman rin?”

Ya punya donk.......... pie lhow............. >.^

Aku setuju sik sama ibukku. Ditambah beberapa impianku sendiri. Mau tau??

Oke.... 1st, kayak yang tadi di mimpiku. Tinggi, agak ndud, perutnya gak buncit... haha, konyol. Tapi kalo dapetnya ntar gak kayak gitu ya gakpapa. Semua orang sama di mata Allah. 2nd, mandiri. Jadi gak bergantung sama orang tua. 3rd, kasih ijin aku buat kerja. Itung-itung menghargai orang tuaku lah yang udah nyekolahin aku....heheheee......4th, udah itu aja. Selebihnya biar Allah yang ngatur.

Dan mari kita mengucap, “semoga semua tercapai, amiiiiiiiiinnnnnn.” :-D

Tapi tapi........ kalo ditanya soal pacaran, kayaknya aku bakal jawab “ntar dulu” dehh. Hufh, jadi kepikiran nanti kalo ditanya suami, “dek, udah pacaran berapa kali?” >,< nah luh, mau jawab apaan??? (udah 2 kali bang, tapi cinta monyet) ya Allah, pie iki??????? Pasti nyesel..............

Senin, 12 Juli 2010

10 Alasan Menolak Ber'JILBAB'

0 komentar

Inilah 10 Alasan mengapa seorang muslimah belum bahkan tidak mau berjilbab, semoga Allah membukakan pintu hidayah kepada mereka yang belum mau bejilbab. Amin

ALASAN I :
Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab

Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini;
Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya,sambil kemudian mengucap Laa Ilaa haIllallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya.

Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah SAW yang suci.

Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?

ALASAN II :
Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.

Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah SAW dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu
ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah SWT.” (Ahmad)Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah
ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . ” (QS.An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah SWT. Allah berfirman; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman : 15)

Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah Allah SWT tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah SWT yang menciptakan kamu dan ibumu.

ALASAN III :
Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.

Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang penipu yang mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur.

“Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?”

Bukankah Allah SWT telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan,jika kamu tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43).
Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu.
Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah SWT daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.

Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah SWT akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman;
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..” (QS. AtTalaq :2-3).

Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah SWT. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dan bergantung pada hukum Allah SWT yang murni.

Dengarkanlah kalimat Allah; “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..” (QS. Al- Hujurat:13).

Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah SWT, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.

ALASAN IV :
Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.

Allah SWT memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya)jikalau mereka mengetahui..” (QS At-Taubah : 81)
Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat talli besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka.

Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah SWT akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini.
Kembalilah pada hukum Allah SWT dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula
mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. AN-NABA 78:24-25).

Kesimpulannya, surga yang Allah SWT janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.

ALASAN V :
Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.

Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti!
Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka tekut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu?

Allah SWT menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah SAWW bersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.”

Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya?
Allah SWT sesungguhnya telah berfirman; “maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AL BAQARAH 2:66)

Kesimpulannya, apabila kau memegang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah SWT setelah kau melaksanakannya.

ALASAN VI :
Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit,jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.

Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah SWT dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah SWT, dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah SWT. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak- taatan kepada Allah SWT, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti.

Allah SWT bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. TAHA 20:124)

Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT kepada siapa saja yang Ia kehendaki.
Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak? Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuanyang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut.

Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.

ALASAN VII :
Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah SWT : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”(QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?

Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur 24: 31] dan sabda Allah SWT: “katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan
darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah SWT, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah SWT bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini?

Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?

ALASAN VIII :
Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk olehNya.

Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah SWT seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah SWT dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya.

Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus” serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab?

Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah SWT, dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.

ALASAN IX :
Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.

Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah SWT berkehendak.
Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah SWT bersabda;
“tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah SWT; “berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..” (QS Al-Hadid 57:21)
saudariku, jangan melupakan Allah SWT atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, “dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS Al-Hashr 59: 19)

saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah SWT akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.

Kesimpulannya, berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.

ALASAN X :
Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!

Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah SWT. Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah SWT, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompok Allah SWT. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan, seburuk-buruknya teman.

KESIMPULAN

Tubuhmu, dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah SWT dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah SWT dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali `Imran 3:185).

Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang.

Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !

Oleh : Dr. Huwayda Ismaeel (Diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris)

Sejengkal Perjalanan Hidup

0 komentar

Memutar ulang memory yang tersisa.

Teman-temanku bilang, “beruntungnya jadi kamu, Rin. Anak tunggal, minta ini minta itu dituruti. Kurang apa coba?”

Yaah senyum aja dah pas mereka bilang kayak gitu. hehee (abiznya mau gimana lagii??). But, prihatin juga kalo udah di’judge’ sebagai anak beruntung. Berasa banyak beban malah.

Dibilang lebih beruntung pas kelas XII IPA semester awal. Dari berubahnya statusku jadi ‘jilbaber’. Pada bilang “selamat yha sist, udah dapet hidayah baru.” (hehe..... senyum lagii) padahal kalo boleh jujur, pas ditanya alasan kenapa aku berjilbab pasti jawabnya, “hehe..... pengen ajah.” (masih suka cengengesan juga). Tapi kata Ika, one of my sista in d’beloved class, “suatu saat nanti pasti ketemu jawabannya. Yang penting jalani dulu ajah sist. Nikmati, jangan disia-siakan. Welcome to republik jilbaber....” :) makasih sista.

Biar dibilang nggaya sama orang lewat, yang penting niatnya pingin berubah jadi lebih baik. Kata usatdzah ngajiku “wis biarin, gak usah didengerin. Orang tau cuma luarnya, dalam hati kamu dan Allah yang tau.”

Ngomong masalah beruntung, berasa masih lebih beruntung kakak sepupu yang diberi kesempatan mencicipi dunia ‘pondok pesantren’ dari kecil. Sementara aku cuma ‘ngandang’ di rumah orang tua. Tapi, it doesn’t matter. Tetap syukur alhandulillah :)

Pas lulusan SMA, bingung cari perguruan tinggi. Haduuuhhh, ngrasain beratnya persaingan dengan berjuta insan cerdas di luar sana, ditolak sana ditolak sini. Nyaris putus asa. Ibukku bilang, “jangan menyerah nak, ini pelajaran berharga buat kamu. Agar kamu mengerti bahwa dunia ini tak sekecil ruang kelasmu. Agar kamu berbesar hati menerima kekalahan. Dan agar kamu mengerti akan arti kata bangkit untuk bertahan hidup.” Hikz, nangis deh di pelukan bunda.

Bapakku bilang, “coba deh ambil jurusan Keperawatan Poltekkes Solo, siapa tau rejeki. Bapak seneng lho anaknya jadi perawat. Dapat ilmu, bisa amal.” Haaaaa....... perawat??? Hiiii..... syereeemm.....

Setengah hati ikut seleksi. Disupport, diantar, difasilitasi bapakku tercinta. (uffhh... semangat banget bapakku ini, mbok ya bapak aja yang kuliah.) sempet mikir gitu. Tapi jadi mikir lagi, kok tega banget ya kalau sampai aku gagal lagi. Tega banget menghancurkan mimpi bapak ibuk. Ya Allah, bismillah aku mau mencoba. Ikhlas Rin....

Dan aku kembali dihadapkan pada dua pilihan. Poltekkes dan Undip di depan mata. Tinggal pilih, nah bingung gak tuh. Fakultas Teknik Undip yang jadi mimpiku, atau Keperawatan Poltekkes yang jadi mimpi orang tuaku. Pas ibuk tanya, pilih mana? Bismillah aku pilih Keperawatan Poltekkes aja demi orang tuaku. Liat senyum ibuk bapakku jadi ciut nyaliku. Padahal pengen bilang, “tapi Teknik Undip sayang dilewatkan...” ah, tak apalah. Meski semaleman nangis gara-gara melepas mimpiku. Itung-itung belajar ikhlas lagi yha Rin...

Oke, welcome to Nursing Class. Let’s start the new life.

“Ririn, kuliah mana sekarang?” menjawab semua pertanyaan serupa dengan kalimat, “Poltekkes Solo.” Dan mendengar mereka menjawab pertanyaan serupa dengan kata, “UI”, “UGM”, “UNDIP”, “IT TELKOM”, “IPB”, “UNS”. Hufhh..... belajar berbesar hati lagi Rin, ikhlassssss.......

Tapi berasa beruntung pas liat kehidupan luar. Masih banyak yang belum bisa menikmati bangku perguruan tinggi. J thanks mom and dad for d’facilities.

Jadi perawat, hihihi, insya allah manfaat. Jadi inget dulu pas lebaran pasti didoain mbah jadi dokter. Tapi apa daya kantong tak memungkinkan untuk jadi dokter. Kata bapak, “gak usah muluk-muluk. Gak jadi dokter ya jadi partner kerjanya aja.” Hehe.... Sekarang kalo lebaran mintanya didoain jadi perawat yang baik dan sukses, kalo bisa PNS. Amiiiinnn...

My 1st long holiday, berkunjung ke rumah sahabat lama. Pas yang dicari keluar, subhanallah... panjang sekali jilbabnya. Dari tutur kata yang terlantun, bagiku antara senang dan merasa sedikit asing. But it’s ok. Perubahan itu perlu proses, dan menerima perubahan itu semakin memerlukan proses. Hmm, sampai sekarang aku malah belum kepikiran untuk mengikuti langkahnya. Belum kebagian hidayah serupa. Hehe....

Setahun jadi mahasiswa, diundang ketemu teman-teman SMP. Dari yang datang di pertemuan, alhamdulillah akulah satu-satunya jilbaber. Berasa aneh liat teman-temanku yang sekarang. Banyak berubah. Modis tapi masyaallah....... (that’s d’change of life).

“Dek, si A nikah lho...”, “Rin, si B sekarang lepas jilbab”, “Rin, si C sekarang kan bukan muslim”, “Lhoh Rin, anaknya si D kan udah gede.” Hew...emang udah nikah yha??? Astagfirullah, kok bisa???

Kemarin kata ustadzahku pas masih ngaji “Alhamdulillah adekku gak lepas jilbab.” (insyaallah mbak):)

 

R.I.N Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea