Sabtu, 26 Maret 2011

Tobacco Use, Problem for Children

0 komentar
CHAPTER I
INTRODUCTION


A. Pictures




CHAPTER II
CONTENT


A. Illustration

JAKARTA, KOMPAS - National Child Protection Commission noted, until mid-2010 there were 6 cases of children aged 11 months, 2.5 years, and 4-year addiction to cigarettes, from five cigarettes per day up to two packs per day. Of children fewer than five smokers who monitored it, long time their smoking between 1.5 and 2 years.

Data from the National Socioeconomic Survey (SUSENAS) also shows the prevalence of smokers who started smoking at age 5-9 years increased by more than 4 times during the year 2001-2004. While adolescents aged 15-19 years increased up to 144 percent during the years 1995-2004.

Of the 6 cases of children under five smokers, the National Commission for Child Protection is currently carrying out therapy in children under five who are addicted to cigarettes named Al (2.5) of South Sumatra. According to his mother, Al started smoking since the age of 11 months. Al used to smoke because smokers often play in the environment. Al habit hard to stop because every time the no smoking Al would cry and bang his head against the wall (Luk, 2010).


B. Discussion

The above article states that tobacco is not only consumed by adults, but also consumed by children under age. This is not a new phenomenon in Indonesia.
Everyday life of a child as fair is a cheerful child, healthy, and can play with their peers. But why are many children under the age has been found to consume tobacco? Let us analyze.

The family and the environment becomes the main factor causing a child to smoke. Fathers who smoke are more likely to ask for help from his son to help buy cigarettes for him. Then with a free, he smokes in front of his son. These indirectly affect the child so that the growing desire of a child to try to consume cigarettes. Various cigarette ads on television also affect the child's desire to try to consume cigarettes.

Apart from family and environmental terms, now often found wrapped candy that resembles a cigarette. Intended for children interested, but this would teach children to try real cigarettes. Moreover a merchants sell out his cigarette on all people, not even the children. It is easier for a child to consume cigarettes.
In terms of psychology, children who smoke tend to behave like an adult to attract attention. Once addicted, a child will do everything to get cigarettes. This triggers other criminal acts among children.

In terms of health, the earlier the age of cigarettes users the greater the likelihood of damage to the lungs. This is supported also by the child's immune system is not good enough when contaminated with cigarette smoke.

To overcome this problem, the first thing to do is to stop teaching kids to smoke so that children do not come to consume cigarettes. Education about the dangers of smoking is required in this process. If the child has been addicted to consume cigarettes, in addition to medical therapy, play therapy is the perfect solution to overcome them. It can balanced with the changing environment of children become healthy environment and away from the influence of smoking. Keep in mind that stress and tension will trigger the child to return to consume cigarettes.

"Children need social learning process again to change the habit. At least it took 2.5 years for that,” Kak Seto said.


CHAPTER III
CONCLUSION


The phenomenon of children under age to consume tobacco it is not foreign. Family and environmental influences are the main cause that triggered the use of tobacco by children.

The rise of tobacco use among children is difficult to control. But that does not mean can not be overcome. This can be overcome by stopping the influence of smoking on children. For children who have been addicted, it can be resolved with medical therapy and play therapy.

As a non-smoking prevention for children, parents should not smoke in front of children and parents do not ask for help a child to buy cigarettes. The influence of tobacco-free environment and education to children about the dangers of cigarettes is very necessary. This can minimize the use of tobacco to children.


REFERENCES


Alan, 2010, Rokok dan Anak Kecil, from: alanhaya.blogspot.com, accessed at March 20th, 2011.

Ar, 2011, Saya Masih Merokok tapi Ingin Berhenti, from: http://arumsekartaji.wordpress.com, accessed at March 20th, 2011.

Luk, 2010, Enam Anak Balita Kecanduan Rokok, from: kompas.com, accessed at March 20th, 2011.

Pathway Cidera Kepala

0 komentar

Pathway Anak Kejang Demam

0 komentar

Pathway Nefrolithiasis

0 komentar

Pathway DM

2 komentar

Pathway Atresia Ani

0 komentar

Pathway Asfiksia Neonatorum

0 komentar

Pathway Abortus

0 komentar

Pathway Letak Lintang

0 komentar

Pathway Ketuban Pecah Dini

0 komentar

Mumps

0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN


Mumps atau gondong disebabkan oleh paramyxovirus. Gondong adalah infeksi virus yang disebarkan oleh udara yang keluar dari hidung atau tenggorokan. Meskipun anak-anak kecil bisa terkena gondong, namun umumnya penyakit ini paling sering terjadi setelah usia 2 tahun (Pillinger, 2008).

Mumps, yang dikenal juga dengan parotitis epidemika adalah salah satu dari infeksi umum pada masa kanak-kanak sebelum vaksin mumps rutin yang dimulai pada tahun 1968. Kasus yang dilaporkan menurun 98% jika dibandingkan dengan era sebelum vaksin. Penyakit ini biasanya terjadi pada akhir musim dingin dan awal musim semi. Sebelum era vaksin, epidemik mumps terjadi 3-4 tahun (Wilson, 2001).


BAB II
PERMASALAHAN


Sebelum vaksin, sekitar 50% anak-anak mengalami gondong. Sekitar 200.000 kasus yang dilaporkan pada tahun 1964 sebelum pengenalan vaksin dibandingkan dengan 291 kasus pada tahun 2005. Terjadi kebangkitan pada tahun 1986 dan 1987, dengan hampir 13.000 kasus yang dilaporkan dan terkait dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk imunisasi. Kasus ini kebanyakan menimpa pada anak usia sekolah yaitu usia 10-19 tahun.

Baru-baru ini terjadi wabah gondong di Lowa, dengan 219 kasus yang dilaporkan pada tahun 2006. Selain itu, 14 kasus dilaporkan di negara-negara terdekat (Illinois, Nebraska, dan Minnesota). Ini adalah jumlah kasus terbesar di Amerika Serikat yang dilaporkan sejak 1988. Usia rata-rata dari 219 penderita gondong adalah 21 tahun, dengan 30% adalah mahasiswa. Pada tahun 1991, Lowa menetapkan bahwa 2 dosis vaksin gondong diperlukan untuk semua anak.

Kematian akibat penyakit Mumps sangat jarang terjadi. Di antara yang terinfeksi penyakit ini yang paling umum dilaporkan adalah gejala Parotitis (83%), pembengkakan kelenjar submaxillary/submandibular (40%), demam (36%), dan sakit tenggorokan (32%). Komplikasi termasuk ensefalitis dan orkitis dilaporkan pada 5% pasien (Carmody, 2009).


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA


A. Keluhan dan Gejala Penyakit
Gondong biasanya dimulai dengan dua hari ketidaknyamanan dan meningkatnya suhu. Yang diikuti oleh perasaan tidak nyaman pada rahang, kemudian disertai dengan pembengkakan kelenjar parotis. Seringkali terjadi pembengkakan yang tidak merata, satu sisi wajah dahulu sebelum sisi yang lainnya. Suhu tubuh akan naik menjadi 40°C dan bengkaknya terasa nyeri. Penderita akan mengalami rasa sakit saat membuka mulut.

Dalam kasus ringan, pembengkakan mungkin hanya berlangsung selama tiga hingga empat hari, namun dapat berlangsung selama satu minggu atau lebih (Pillinger, 2008).
Penyakit gondong atau mumps ini dapat menyebabkan komplikasi yang melibatkan organ-organ lain. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
• Orchitis, dalam kasus gondong pada laki-laki remaja dan dewasa dengan rata-rata usia 15-29 tahun. Penyakit akan menginfeksi testis, menyebabkan demam tinggi yang terjadi pada akhir minggu pertama, yang disusul dengan bengkak dan nyeri pada testis. Kemandulan jarang terjadi dan orchitis ini berakhir dalam 4-6 hari (Wilson, 2001).
• Oophoritis, yaitu peradangan pada ovarium. Namun tidak menyebabkan kemandulan.
• Pancreatitis, yaitu peradangan pada pankreas, tetapi jarang terjadi.
• Meningitis, yaitu peradangan pada selaput otak atau sumsum tulang belakang. Terjadi pada sekitar 15% penderita dan mungkin muncul 3-10 hari setelah terkena gondong, dan dalam kaitannya dengan gondong biasanya ringan. Gejala meningitis yaitu keengganan terhadap cahaya terang, leher kaku dan kemungkinan penderita muntah (Pillinger, 2008).

B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya pembengkakan kelenjar parotis. Tetapi jika meragukan diagnosis, dapat dilakukan tes air liur (saliva), atau darah dan juga dapat digunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk memastikan adanya virus Paramyxovirus (Anonim, 2010).

C. Etiologi
Virus penyakit mumps adalah 150 nm paramyxovirus. Terdiri atas RNA rantai tunggal yang berisi suatu helik nukleokapsid. Amplop viral berisi hemolisin, hemaglutinin, dan neuraminidase (Wilson, 2001).

Mumps adalah penyakit menular yang ditularkan melalui kontak dengan sekret pernapasan, seperti air liur dari orang yang terinfeksi. Saat penderitanya batuk atau bersin, maka dapat menularkan ke orang lain. Mumps atau gondong ini juga dapat menyebar dengan berbagi makanan dan minuman. Virus paramyxovirus menyebar 1 hari sebelum gejala dan berlanjut menyebar selama 9 hari setelah gejala parotitis. Masa inkubasi penyakit ini adalah 14-25 hari tetapi biasanya 16-18 hari (Anonim, 2010).

D. Cara Pencegahan
Vaksinasi gondong merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. Vaksin gondong biasanya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan measles dan rubella (MMR), yang disuntikkan melalui otot paha atau lengan atas.

Vaksin MMR diberikan secara kombinasi dan dipisahkan sekurang-kurangnya 28 hari. Dosis pertama diberikan pada usia antara 12 dan 15 bulan, dosis yang kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Jika dosis yang kedua ini lupa diberikan pada usia tersebut, dapat diberikan sebelum usia 12 tahun (Wilson, 2001).

Vaksin MMR adalah cara terbaik untuk mencegah gondong. Cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah gondong adalah :
• Mencuci tangan dengan baik dan menggunakan sabun
• Mengajarkan pola hidup bersih kepada anak
• Tidak membagi peralatan makan
• Membersihkan permukaan meja, gagang pintu, mainan yang sering disentuh secara teratur dengan menggunakan sabun dan air, atau dengan menggunakan tisu pembersih

E. Cara Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk gondong. Demam dapat dikurangi dengan pemberian acetaminophen/paracetamol (thylenol). Aspirin tidak diberikan karena ada kemungkinan Syndrom Reye (Anonim, 2010).

F. Rehabilitasi
Virus ini menyebar 1 hari sebelum gejala dan berlanjut menyebar selama 9 hari setelah gejala parotitis. Pengisolasian harus terjaga, anak-anak tidak bersekolah sementara dan perawatan selama periode ini (Wilson, 2001).

Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat di tempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres es pada area testis yang membengkak tersebut, kompres juga pada bagian rahang. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus pada organ pankreas (pankreatitis), yang menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.

Penyakit gondong sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yang sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondong sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak (Anonim, 2010).

G. Prognosis
Kematian sangat jarang terjadi. Penyakit ini adalah self limiting disease dan hasilnya bagus walaupun dapat melibatkan organ-organ lain (Anonim, 2010).


BAB IV
PENUTUP


Mumps atau gondong disebabkan oleh paramyxovirus. Sebelum vaksin sekitar 50% anak-anak mengalami gondong. Sekitar 200.000 kasus yang dilaporkan pada tahun 1964 sebelum pengenalan vaksin dibandingkan dengan 291 kasus pada tahun 2005. Gejala yang terjadi pada penyakit Mumps adalah meningkatnya suhu tubuh dan rasa ketidaknyamanan pada rahang, kemudian disertai dengan pembengkakan kelenjar parotis. Seringkali terjadi pembengkakan yang tidak merata, satu sisi wajah dahulu sebelum sisi yang lainnya. Suhu tubuh akan naik menjadi 40°C dan bengkaknya terasa nyeri.

Komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit ini adalah Orchitis, Oophoritis, Pancreatitis, serta Meningitis. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untu memastikan terinfeksi penyakit ini adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan air liur (saliva), atau darah dan juga dapat digunakan PCR (Polymerase Chain Reaction). Mumps adalah penyakit menular yang ditularkan melalui kontak dengan sekret pernapasan, seperti air liur dari orang yang terinfeksi. Virus paramyxovirus menyebar 1 hari sebelum gejala dan berlanjut menyebar selama 9 hari setelah gejala parotitis. Masa inkubasi penyakit ini adalah 14-25 hari tetapi biasanya 16-18 hari.

Pencegahan penyakit gondong yang terbaik adalah dengan vaksin yang biasanya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan measles dan rubella (MMR). Cara lain yang dapat dilakukan yaitu : mencuci tangan dengan baik dan menggunakan sabun, mengajarkan pola hidup bersih kepada anak, tidak membagi peralatan makan, membersihkan permukaan meja, gagang pintu, mainan yang sering disentuh secara teratur dengan menggunakan sabun dan air, atau dengan menggunakan tisu pembersih. Tidak ada pengobatan khusus untuk gondong. Demam dapat dikurangi dengan pemberian acetaminophen/paracetamol (thylenol).

Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres es pada area testis yang membengkak tersebut, kompres juga pada bagian rahang. Penyakit gondong sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yang sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondong sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak. Kematian sangat jarang terjadi. Penyakit ini adalah self limiting disease dan hasilnya bagus walaupun dapat melibatkan organ-organ lain


BAB V
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2010. Mumps. http://en.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 6 Maret 2010.
Carmody, Kristin A. 2009. Mumps. http://www.medscape.com. Diakses pada tanggal 17 Maret 2010.
Pillinger, John. 2008. Mumps. http://www.netdoctor.co.uk. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010.
Wilson, Walter R and Merle A Sande. 2001. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. USA : the McGraw-Hill Companies, Inc.
 

R.I.N Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea