Tentang aksi mahasiswa di sejumlah tempat di
Aku tersadar dari lamunanku. Kenapa aku bisa berpikir sejauh itu? Padahal tertarik sama politik aja ga’ pernah. Apalagi peduli sama masalah politik. Aku bahkan lebih suka menikmati masa remajaku. Aku menggelengkan kepala, “Risa... kembali pada duniamu... biarin aja mereka demo. Apa urusannya sama kamu. Yang penting kamu ga’ ikut-ikutan.”
Kemudian dari cermin itu aku bisa melihat bundaku merebut remote dari tangan ayahku. Menggantinya dengan acara reality show. “Hah? Reality show??” kembali imajinasiku melayang entah kemana. Sebenarnya apa sih hebatnya para seleb? Superstar kah mereka seperti spyderman?? Toh mereka juga manusia, sama seperti kita. Yang jelas sama-sama makan nasi. Trus apa untungnya buat kita ngikutin kabar seleb? Penting kah? Apa ga’ malah nambah dosa tuh kalo sampai menyebar privacy mereka. Hufff... aku menarik nafas panjang. Ada-ada aja deh...
Lagi-lagi aku tersadar. Rupanya emosiku terbawa arus. Ya, mungkin memang benar aku terlalu banyak komentar tentang acara-acara itu. Aku tertawa dalam hati, “Bukannya kita para manusia dikaruniai otak untuk berpikir dan menganalisis apa yang terjadi di sekitar kita???”
Belum sempat aku memalingkan muka dari cermin di depanku, ku lihat di belakangku kak Eva mengganti chanel tv dengan acara seputar percintaan remaja. “hehehe...” sekali lagi aku tertawa sendiri dalam hati. Lucu juga ya bermain dengan emosi. Remaja jaman sekarang ga’ kalah menarik untuk menjadi bahan permainan emosiku. Jadi inget dulu pas waktu bunda masak buat buka puasa, bunda cerita tentang masa mudanya dulu. “Jaman bunda dulu remajanya masih polos, ga’ kaya’ sekarang. Makanya dulu jarang sekali ada cerita gadis hamil di luar nikah. Mereka juga masih percaya dengan hukum alam, jadi selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan. Takut kualat.” Lalu bunda melanjutkan aktivitasnya sebagai koki rumah tangga.
Hmmm... coba remaja sekarang sepolos dulu... reputasi negriku ga’ akan seburuk ini. Tapi kalo dipikir-pikir, kapan mau maju? Jaman dulu aja tekhnologi masih sangat minim. Oow... sekarang aku ngerti. Remaja sekarang bisa menepis adanya hukum alam, teori kualat, dan sebagainya juga karena perkembangan tekhnologi. Bahkan akupun sering mengatakan, “Yah, ini khan bukan jaman waktu ayah muda dulu. Jadi boleh dong aku cari pengalaman di luar sana.” Waduh... jadi sok tau nih. Eitz, tapi ada dalilnya kok di Agamaku.. kira-kira bunyinya gini, “Jangan kau anggap sama anak-anakmu dengan dirimu, karena mereka tidak hidup pada jamanmu.” Yes... Merdekalah para remaja....
Tapi tiba-tiba aku teringat akan perkataan guru Agamaku. “Umur manusia itu ibarat es. Mencair dan terus mencair seiring dengan berputarnya sang waktu.” Hiii.... ngeri juga yah. Sedikit aku bisa mengambil pelajaran dari situ. Aku bertekad untuk melakukan apapun yang bisa aku lakukan demi diriku sendiri dan semua yang ada di sekitarku. Selagi masih remaja, aku ingin hidupku bermanfaat sebelum usiaku habis mencair dimakan waktu.
“
Aku baru benar-benar 100% sadar ketika aku memalingkan mukaku dari cermin, kulihat ayah, bunda, dan kak Eva mengarahkan pendangan mereka padaku dari posisi mereka masing-masing. Mungkin mereka pikir aku udah ada’ gila kali yah, teriak-teriak sendiri?? ah… bodo amat….”SEMANGAT!!!"
