Memutar ulang memory yang tersisa.
Teman-temanku bilang, “beruntungnya jadi kamu, Rin. Anak tunggal, minta ini minta itu dituruti. Kurang apa coba?”
Yaah senyum aja dah pas mereka bilang kayak gitu. hehee (abiznya mau gimana lagii??). But, prihatin juga kalo udah di’judge’ sebagai anak beruntung. Berasa banyak beban malah.
Dibilang lebih beruntung pas kelas XII IPA semester awal. Dari berubahnya statusku jadi ‘jilbaber’. Pada bilang “selamat yha sist, udah dapet hidayah baru.” (hehe..... senyum lagii) padahal kalo boleh jujur, pas ditanya alasan kenapa aku berjilbab pasti jawabnya, “hehe..... pengen ajah.” (masih suka cengengesan juga). Tapi kata Ika, one of my sista in d’beloved class, “suatu saat nanti pasti ketemu jawabannya. Yang penting jalani dulu ajah sist. Nikmati, jangan disia-siakan. Welcome to republik jilbaber....” :) makasih sista.
Biar dibilang nggaya sama orang lewat, yang penting niatnya pingin berubah jadi lebih baik. Kata usatdzah ngajiku “wis biarin, gak usah didengerin. Orang tau cuma luarnya, dalam hati kamu dan Allah yang tau.”
Ngomong masalah beruntung, berasa masih lebih beruntung kakak sepupu yang diberi kesempatan mencicipi dunia ‘pondok pesantren’ dari kecil. Sementara aku cuma ‘ngandang’ di rumah orang tua. Tapi, it doesn’t matter. Tetap syukur alhandulillah :)
Pas lulusan SMA, bingung cari perguruan tinggi. Haduuuhhh, ngrasain beratnya persaingan dengan berjuta insan cerdas di luar sana, ditolak sana ditolak sini. Nyaris putus asa. Ibukku bilang, “jangan menyerah nak, ini pelajaran berharga buat kamu. Agar kamu mengerti bahwa dunia ini tak sekecil ruang kelasmu. Agar kamu berbesar hati menerima kekalahan. Dan agar kamu mengerti akan arti kata bangkit untuk bertahan hidup.” Hikz, nangis deh di pelukan bunda.
Bapakku bilang, “coba deh ambil jurusan Keperawatan Poltekkes Solo, siapa tau rejeki. Bapak seneng lho anaknya jadi perawat. Dapat ilmu, bisa amal.” Haaaaa....... perawat??? Hiiii..... syereeemm.....
Setengah hati ikut seleksi. Disupport, diantar, difasilitasi bapakku tercinta. (uffhh... semangat banget bapakku ini, mbok ya bapak aja yang kuliah.) sempet mikir gitu. Tapi jadi mikir lagi, kok tega banget ya kalau sampai aku gagal lagi. Tega banget menghancurkan mimpi bapak ibuk. Ya Allah, bismillah aku mau mencoba. Ikhlas Rin....
Dan aku kembali dihadapkan pada dua pilihan. Poltekkes dan Undip di depan mata. Tinggal pilih, nah bingung gak tuh. Fakultas Teknik Undip yang jadi mimpiku, atau Keperawatan Poltekkes yang jadi mimpi orang tuaku. Pas ibuk tanya, pilih mana? Bismillah aku pilih Keperawatan Poltekkes aja demi orang tuaku. Liat senyum ibuk bapakku jadi ciut nyaliku. Padahal pengen bilang, “tapi Teknik Undip sayang dilewatkan...” ah, tak apalah. Meski semaleman nangis gara-gara melepas mimpiku. Itung-itung belajar ikhlas lagi yha Rin...
Oke, welcome to Nursing Class. Let’s start the new life.
“Ririn, kuliah mana sekarang?” menjawab semua pertanyaan serupa dengan kalimat, “Poltekkes Solo.” Dan mendengar mereka menjawab pertanyaan serupa dengan kata, “UI”, “UGM”, “UNDIP”, “IT TELKOM”, “IPB”, “UNS”. Hufhh..... belajar berbesar hati lagi Rin, ikhlassssss.......
Tapi berasa beruntung pas liat kehidupan luar. Masih banyak yang belum bisa menikmati bangku perguruan tinggi. J thanks mom and dad for d’facilities.
Jadi perawat, hihihi, insya allah manfaat. Jadi inget dulu pas lebaran pasti didoain mbah jadi dokter. Tapi apa daya kantong tak memungkinkan untuk jadi dokter. Kata bapak, “gak usah muluk-muluk. Gak jadi dokter ya jadi partner kerjanya aja.” Hehe.... Sekarang kalo lebaran mintanya didoain jadi perawat yang baik dan sukses, kalo bisa PNS. Amiiiinnn...
My 1st long holiday, berkunjung ke rumah sahabat lama. Pas yang dicari keluar, subhanallah... panjang sekali jilbabnya. Dari tutur kata yang terlantun, bagiku antara senang dan merasa sedikit asing. But it’s ok. Perubahan itu perlu proses, dan menerima perubahan itu semakin memerlukan proses. Hmm, sampai sekarang aku malah belum kepikiran untuk mengikuti langkahnya. Belum kebagian hidayah serupa. Hehe....
Setahun jadi mahasiswa, diundang ketemu teman-teman SMP. Dari yang datang di pertemuan, alhamdulillah akulah satu-satunya jilbaber. Berasa aneh liat teman-temanku yang sekarang. Banyak berubah. Modis tapi masyaallah....... (that’s d’change of life).
“Dek, si A nikah lho...”, “Rin, si B sekarang lepas jilbab”, “Rin, si C sekarang kan bukan muslim”, “Lhoh Rin, anaknya si D kan udah gede.” Hew...emang udah nikah yha??? Astagfirullah, kok bisa???
Kemarin kata ustadzahku pas masih ngaji “Alhamdulillah adekku gak lepas jilbab.” (insyaallah mbak):)

0 komentar:
Posting Komentar