Aku boleh jadi berharap banyak sama kamu. Aku bisa dibilang nggak peduli sama masa lalu kamu, kayak kamu nggak pernah peduli sama masa laluku.
Aku bisa dibilang fokus menatap masa depan.
Tapi ingatan ini nggak akan pernah hilang. Aku bisa disebut telah larut sama
kenormalan ini, sejuta perhatian, perasaan suka, sayang, senang, cinta, dari
kamu, dari orang-orang di kehidupanmu, di kehidupanku, di sekitarmu dan di
sekelilingku.
Oke, katakan aku telah menikmati semua yang
ada. Berjalan ke depan sambil menggenggam erat tanganmu. Tapi... tapi
terkadang... tanganku kayak mati rasa dan kepingin berhenti sebentar buat
sekedar ngumpulin lagi tenaga yang mendadak hilang. Menata lagi hati yang
tiba-tiba terusik oleh ingatan lalu.
Tangan yang aku genggam ini, dulu pernah
digenggam sama orang lain.
Mata yang aku kagumi ini, dulu pernah menatap
orang lain sedalam-dalamnya perasaan.
Bibir yang sedang membisikkanku kata-kata
semangat ini, dulu pernah mengatakan hal yang sama pada orang lain, dengan
perasaan yang sama atau mungkin malah justru lebih.
Bait lagu yang kamu nyanyikan ini, dulu pernah
menjadi bait yang menceritakan kisah kamu dengan (tentunya) orang lain.
Dan hati yang aku cintai ini, dulu pernah
dijaga baik-baik, dirawat baik-baik, ditanami cinta dan dibiarkan tumbuh dengan
sangat baik... untuk orang lain.
Aku pernah cemburu melihat kamu memperlakukan
masa lalu kamu dengan sangat sempurna.
Dan aku... nggak pernah tau apakah masa lalu
kamu akan cemburu melihat kamu memperjuangkan aku dengan cara-cara sederhana,
dengan sangat berhati-hati, dengan langkah-langkah semu, demi harapan,
cita-cita dan kesempurnaan yang suatu saat nanti akan lebih sempuna dari yang
sempurna.
Aku ingin menjadi berbeda, udah, cukup itu
aja....

1 komentar:
woow...
Posting Komentar