Palang Merah Indonesia Kota Surakarta. Tempat dimana aku bisa jatuh hati sejak pertama menginjakkan kaki. Siang itu langkahku mantap. Entah karena alasan apa, hatiku berkata, “I will be the part of...” kemudian aku menarik nafas panjang dan siap untuk berperang. Semangatku berkobar sejak detik itu.
Traveler, love adventure, survival, tanah, hutan, air dan
segala macamnya, really I love it all. Sempat merasa salah tempat ketika harus
stay di laboratorium serologi, pengolahan darah dan cross match. “Hey, Aku ini
PERAWAT. Mana mudeng yang begituan?” hampir sebulan ‘menanam padi di lahan
tandus’, ternyata aku bisa belajar tentang pengairan yang benar. Intinya,
dimanapun kita berada, selama kita ikuti aturan mainnya, kita aman sodara ;)
Dan setelah musim kemarau berkepanjangan, dimana lahan
tandus harus tetap dijaga kesuburannya, datanglah musim dimana seharusnya padi
itu ditanam. Move to poliklinik ;) di tempat seharusnya tenaga medis sesat
macam kami ini berada. Petualangan dimulai dari sini. Pengobatan gratis,
ambulans gratis, pengobatan korban bencana banjir di Jepara, siaga erupsi
gunung kelud, pengobatan korban banjir di Kampung Ampera Solo, kesemuanya itu
walaupun terjadi dalam waktu yang teramat sangat singkat, aku menyadari bahwa
separuh hatiku telah tertinggal di PMI.
Saat harus pergi, meskipun orang mengatakan aku tega, nggak
setia kawan, nggak bertanggung jawab atau apapun itu, sejujurnya separuh hati yang
lain telah rela membiarkan sebagiannya tertinggal di PMI. Bagaimanapun, di
tempat itu aku belajar mengenal diriku sendiri, mengenal orang lain dan
mengenal setiap jalan yang harus dilalui dengan segala resikonya.
Di waktu yang sedang kupijak ini, aku membuktikan sendiri
buah dari keikhlasan, manfaat dari pengorbanan, dan ridha Allah atas doa-doa
orang yang mungkin aku nggak pernah kenal sekalipun.
Aku masih bangga menggendong ransel bertuliskan Palang Merah
Indonesia Kota Surakarta. Aku masih bangga ketika melintas di depan gedung
merah itu, lalu menunjukkan pada siapapun
yang sedang bersamaku, “aku pernah menjadi bagian darinya.” Meskipun seseorang yang sedang duduk di salah
satu ruangannya pernah membuat hatiku sedikit menciut.



0 komentar:
Posting Komentar